GENTA 2018

Rayasa Kherta
Chapter #37

BERPISAH

Enam bulan aku tidak menulis apapun tentang kisahku dengan Mirah. Apa saja yang terjadi akan kusampaikan begitu adanya pada halaman ini. Meskti tidak mengenakan untuk dibaca tapi jangan dimasukkan ke hati biar aku saja yang membingkai hari-hari selanjutnya dengan penuh kesunyian. Enam bulan yang berat bagi aku dan Mirah. Kami telah berjuang mati-matian! Idealisku telah kucurahkan berkali-kali secara logika dan perjuangan harusnya aku dan Mirah baik-baik saja tapi takdir berkata lain. Dalam pertemuan yang begitu hebatnya diantara kursi-kursi di taman kota Tabanan, Mirah bercerita tentang penggantiku. Ada laki-laki lain yang sudah dijodohkan dengan Mirah ternyata orang tuanya menganggap aku ancaman yang harus secepatnya diberi pelajaran. Anak kemarin sore seperti aku yang berani datang ke rumah Mirah sendiri berdebat soal adat, cinta dan etika malah dihancurkan dengan pelan tapi pasti.

Mirah tak sanggup berkata apapun derai air matanya tak sanggup kubendung. Perasaanku campur aduk mau marah tapi tidak tega mau menangis tetapi aku lelaki! Intinya dalam enam bulan ini aku hancur berkeping-keping semua sore yang berlalu tidak menjadi sore yang istimewa lagi bagiku. Bagi siapapun yang mengikuti kisah ini dari awal sampai halaman ini mungkin kecewa tapi serius aku tidak berencana membuat kisah ini menjadi tidak menyenangkan begini. Andai saja aku bisa membuat kisah ini baik-baik saja pasti kusampaikan lebih indah, lebih merdu dan lebih lembut. Jika bisa maka aku persembahkan kisah dalam buku ini lebih romantis dari kisah cinta manapun tapi sekali lagi aku hanya Genta yang idealis soal cinta namun dikalahkan oleh lelaki yang mau nyentana. Maafkan aku yang biasanya begitu bergairah menyampaikan tentang apa saja yang aku lakukan dengan Mirah kini ingin buru-buru kuselesaikan.

Untuk siapa saja yang sampai ke halaman ini tenang saja mungkin akan ada sore terakhir yang akan aku sampaikan. Tapi pastinya tidak akan seindah sebelumnya tidak akan secantik sore-sore yang aku lalui bersama Mirah. Tapi yakinlah bahwa sore yang aku ceritakan nanti adalah sore yang paling tulus dari aku, Genta. Aku sampaikan jujur tidak dibuat-buat agar perpisahan itu menjadi perpisahan yang paling ikhlas. Beri aku waktu entah kapan itu teruslah membaca ke halaman berikutnya.

Aku pertegas sekali lagi bahwa aku dan Mirah putus bukan atas kemauan kami. Orang tua Mirah yang membuat semuanya menjadi berantakan begini. Adat nyentana selalu hadir dalam perdebatan cintaku sehingga dalam beberapa bulan belakangan ini perjuangan kami kalah dengan laki-laki lain yang hanya bermodal bersedia nyentana. Ternyata orang tua begitu dalam ikut campur dengan kehidupan pribadi anaknya. Padahal sudah kuperdebatkan tentang idealis bagaimana peran orang tua versi kekinian tapi semuanya tidak mau diterima orang tuanya Mirah ternyata mereka belum siap menerima pemikiran anak milenial.

Lihat selengkapnya