GENTA 2018

Rayasa Kherta
Chapter #38

MIRAH MENIKAH

Tiba di rumahku sepucuk surat tercatat untuk aku, Genta. Aku yakin ini bukan surat berisi sebuah sore di suatu tempat atau puisi, surat ini serius dan formal dengan kata-kata doa panjang yang teriring untuk Mirah dan pasangannya. Aku cuma ingin bilang surat undanganmu telah kuterima dengan sopan tanpa kurang apapun. Surat ini tidak aku buang di tong sampah meski bisa saja aku lakukan tapi bagiku itu kurang elegan. Pada cover depan surat ini kau tampak cantik dan manis dengan pakaian adat bali, ini persis yang aku bayangkan seandainya saja aku yang menikah denganmu. Senyummu dan tatapanmu bisa aku rasakan sampai disini bahwa tentang aku sudah benar-benar tidak ada lagi disana. Bagaimana kira-kira kalau seandainya aku yang berfose sama seperti lelaki yang ada di undanganmu. Bisakah kau membayangkan bagaimana semesta, langit dan seluruh isinya bergembira ikut merayakan cinta. Sudahlah! aku tidak mau menghayal lagi nyatanya sebentar lagi kau akan menikah dengan lelaki yang mau nyentana itu.

Aku datang kepernikahanmu lalu menyaksikan kau berbahagia dengannya. Sebagai lelaki yang pernah mencintaimu begitu hebat aku paham konsekuensi patah hati yang begitu dalam. Tapi biar ini menjadi urusanku saja bagaimana aku mengobatinya biar waktu yang membawaku kembali. Tidak banyak yang kukatakan ketika itu hanya mengucapkan selamat menempuh hidup baru semoga senantiasa diberikan kebahagiaan. Kau menatapku lebih lama dari biasanya aku tidak mengizinkan diriku untuk larut dalam suasana seperti ini lagi. Telah kuambil keputusan bahwa kau hanya temanku sekarang dan tidak mungkin akan lebih dari itu. Lalu dengan suamimu, aku juga ucapkan hal yang sama. Meski baru saja berkenalan aku lupa nama suamimu mungkin karena berisik tamu undangan atau memang itu tidak penting bagiku.

Mirah, silahkan melanjutkan hidup barumu dengan sebaik-baiknya. Bilamana hidup ini ada duka laranya aku harap kau tidak pantang menyerah. Perjalananku setelah ini akan panjang yang mungkin ada banyak kota yang akan aku singgahi dengan banyak sore yang menawan tentunya. Aku hargai keputusanmu perpisahan ini semoga membuat kita semakin kuat menjalani kehidupan. Aku yakin memang sudah begini takdirnya sehingga aku harus belajar ikhlas atas semua ini. Akan aku sisakan sedikit ruang dimana kau kukenang sebagai perempuan yang pernah membuat hari-hariku begitu indah. Lalu ruang lainnya akan aku berikan kepada orang baru yang mau menerimaku begini adanya. Siapapun dia yang datang selanjutnya akan aku cintai secukupnya akan aku hargai sewajarnya dan akan kuberi seadanya. Bilamana dia sanggup dan nyaman bersamaku akan kupilih dia menjadi teman hidupku.

Terima kasih atas doa panjang yang pernah kau berikan untukku. Aku yakin doa-doa itu tak henti sampai disini mungkin hanya arahnya saja yang berbeda dengan tujuan yang sama. Mirah, kita tidak berjodoh di kehidupan ini bilamana ada pertemuan selanjutnya aku berdoa kau bisa kumiliki abadi entah dalam kehidupan selanjutnya, itu terserah Tuhan saja. Akan kubawa yang bisa aku bawa akan kubuang yang menjadi beban. Menjadi aku tidaklah gampang apalagi menjadi dirimu anak tunggal yang mencari sentana aku yakin berkali-kali lebih susah. Cinta bukanlah yang utama melainkan adat harus tegak lurus melanjutkan keturunan orang tuamu.

Lihat selengkapnya