Langkah terakhir Aksa melewati lingkaran cahaya itu terasa aneh. Bukan hanya seperti melangkah ke tempat lain. Lebih seperti sesuatu di dalam dirinya tertinggal di belakang, di sisi lain pintu yang mungkin tidak akan pernah terbuka lagi. Perasaan itu datang begitu cepat sampai ia tidak sempat benar-benar memahaminya.
Lalu semuanya lenyap.
Tidak ada tanah.
Tidak ada udara.
Tidak ada bunyi.
Tubuhnya sendiri terasa seperti ikut menghilang.
Ia seperti jatuh ke ruang kosong yang tidak memiliki arah. Tidak ada atas. Tidak ada bawah. Tidak ada jarak yang bisa dipahami pikiran manusia.
Sunyi di tempat itu bukan sekadar tidak bersuara. Sunyi itu seperti sesuatu yang hidup. Sesuatu yang perlahan menelan detak jantung, menelan napas, menelan semua hal kecil yang biasanya membuat manusia yakin dirinya masih ada di dunia.
Sesaat Aksa bahkan tidak yakin ia masih bernapas.
Lalu dunia kembali.
Tidak sekaligus.
Perlahan.
Telapak kakinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Permukaannya halus sekali. Seperti kaca yang dipoles sampai sempurna, namun entah bagaimana tidak terasa rapuh.
Aksa membuka mata.
Napasnya tertahan.
Langit di tempat itu tidak diam.
Cahaya mengalir di atasnya seperti sungai raksasa yang terbuat dari galaksi dan waktu. Warna-warna yang tidak pernah ia lihat sebelumnya saling mendekat lalu menjauh lagi, seperti sesuatu yang sedang berbicara dalam bahasa yang terlalu tua untuk dimengerti manusia.
Bintang-bintang tampak begitu dekat sampai rasanya seseorang hanya perlu sedikit keberanian untuk mengangkat tangan dan mencoba meraihnya.
Aksa berdiri tanpa bergerak.
Ia menutup mata sebentar.
Lalu membukanya lagi.
Langit itu masih bergerak.
Pulau-pulau batu masih melayang jauh di kejauhan.
“Baik,” gumamnya pelan. “Jadi ini benar-benar terjadi.”
Di sekelilingnya pulau-pulau batu menggantung di kehampaan. Tidak ada laut di bawahnya. Tidak ada bumi yang bisa memberi rasa aman. Hanya ruang luas yang membuat dadanya terasa lebih kecil dari biasanya.
Jalur-jalur cahaya menghubungkan pulau-pulau itu. Mereka berdenyut pelan, lembut, seperti urat nadi dari sesuatu yang jauh lebih besar dari dunia yang pernah ia kenal.
Aksa menarik napas perlahan.
Udara di tempat ini terasa aneh.
Tidak berat.
Tidak ringan.
Setiap tarikan napas terasa seperti menyentuh bagian dirinya yang selama ini tidak pernah disentuh apa pun.
Ia melangkah.
Permukaan kristal di bawah kakinya memantulkan cahaya lembut. Dari langkah itu muncul gelombang tipis yang menyebar perlahan seperti air yang tersentuh ujung jari.
Aksa mengambil langkah berikutnya.
Gelombang cahaya itu menyebar lebih jauh.
Jalur-jalur cahaya yang menghubungkan pulau-pulau batu bergetar sebentar, sangat halus, lalu kembali tenang seolah tidak ingin memperlihatkan perubahan itu terlalu jelas.
Aksa berhenti.
Ia menatap sekeliling.
Tempat ini tidak kosong.
Ia tidak mendengar langkah lain. Tidak ada suara napas. Tidak ada bisikan yang bisa ditangkap telinganya.
Namun sesuatu di udara membuat tengkuknya menegang.
Bukan ancaman.
Lebih seperti perasaan bahwa tempat ini… sedang menyadari dirinya.