Keheningan di dunia itu tidak terasa seperti keheningan yang pernah Aksa kenal.
Di bumi, bahkan malam yang paling sunyi masih memiliki suara kecil. Hal-hal yang hampir tidak diperhatikan orang karena terlalu biasa. Kipas yang berputar pelan di sudut kamar. Anjing yang menggonggong jauh di ujung jalan. Dengung kulkas di dapur ketika semua orang sudah tertidur dan rumah terasa setengah hidup.
Keheningan di sana tidak pernah benar-benar sendiri.
Selalu ada sesuatu yang menemaninya.
Namun di tempat ini sunyi terasa berbeda. Jauh lebih dalam. Lebih luas dari yang bisa dipahami telinga manusia. Seperti ruang yang terlalu besar untuk diisi oleh suara apa pun yang pernah lahir di bumi.
Aksa berdiri di atas tanah kristal sambil menatap perempuan di depannya.
Cahaya dari langit yang terus bergerak jatuh di wajah Seravyn dengan cara yang aneh. Matanya berkilau lembut, seperti memantulkan bintang yang tidak pernah padam sejak awal semesta.
Ia tidak terlihat panik.
Ia juga tidak terlihat bingung.
Lebih seperti seseorang yang sedang mencoba memahami sesuatu yang tidak pernah terjadi sepanjang hidupnya.
Seravyn akhirnya mengalihkan pandangannya dari Aksa dan menatap langit.
“Gerbang itu tidak seharusnya terbuka.”
Suaranya pelan.
Kalimat itu tidak terdengar seperti keluhan. Tidak juga seperti kemarahan. Lebih seperti seseorang yang baru saja menyadari ada sesuatu di dunia yang telah bergeser sedikit dari tempatnya.
Aksa melipat kedua tangannya di dada.
“Kalau begitu kita punya masalah yang sama.”
Seravyn menoleh sedikit.
“Apa maksudmu?”
Aksa menarik napas panjang. Udara di dunia ini masih terasa asing di paru-parunya, seolah tubuhnya belum sepenuhnya setuju berada di sini.
“Aku juga tidak seharusnya berada di sini.”
Seravyn menatapnya lama.
Tidak ada senyum di wajahnya. Namun tidak ada juga penolakan. Matanya bergerak perlahan, seperti seseorang yang sedang membaca halaman dari buku yang terlalu rumit untuk dipahami sekali lihat.
Lalu ia berjalan melewati Aksa.
Langkahnya ringan. Hampir tidak menimbulkan suara ketika menyentuh permukaan kristal.
Aksa menoleh mengikuti arah perginya.
Seravyn berhenti di tepi pulau batu tempat mereka berdiri.
Dari sana dunia itu terlihat jauh lebih luas.
Pulau-pulau melayang di kejauhan seperti pecahan dunia yang lupa jatuh ke bumi. Jalur cahaya membentang di antara mereka, berdenyut lembut seperti aliran kehidupan dari sesuatu yang jauh lebih besar dari satu dunia kecil bernama manusia.
Aksa berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya.
“Tempat ini,” katanya pelan, “bukan bumi.”
Seravyn menggeleng perlahan.
“Tempat ini juga bukan dunia yang benar-benar hidup.”
Aksa mengerutkan kening.
“Kalau begitu apa?”
Seravyn menatap langit yang terus bergerak di atas mereka.
“Ini ruang di antara dunia.”
Kata-kata itu sederhana.
Namun rasanya terlalu besar untuk hanya menjadi satu kalimat yang jatuh begitu saja di udara.
Aksa menatap pulau-pulau yang melayang di kejauhan.
“Ruang di antara dunia,” ulangnya pelan.
Seravyn mengangguk.