Getaran di bawah kaki mereka tidak berhenti.
Ia tidak mengguncang tanah seperti gempa di bumi. Tidak ada suara runtuh. Tidak ada retakan yang terlihat di permukaan kristal. Namun denyut itu tetap terasa. Pelan. Teratur. Seperti jantung raksasa yang berdetak jauh di dalam tubuh dunia ini.
Aksa merasakannya naik dari tanah.
Dari telapak kakinya.
Merambat perlahan ke dadanya.
Ia tidak tahu kenapa perasaan itu membuat napasnya terasa lebih berat. Bukan sakit. Bukan juga takut yang jelas bentuknya. Lebih seperti tubuhnya menyadari sesuatu lebih cepat daripada pikirannya.
Seravyn menatap cakrawala.
Langit dipenuhi jalur cahaya yang menghubungkan pulau-pulau dunia. Salah satunya mulai meredup perlahan. Cahayanya melemah seperti lampu tua yang mulai kehilangan tenaga setelah terlalu lama menyala.
“Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.”
Suaranya pelan.
Bukan panik. Lebih seperti seseorang yang baru menyaksikan aturan dunia berubah di depan matanya.
Aksa mengikuti arah pandangnya.
Dari kejauhan jalur cahaya itu terlihat seperti sungai yang kehilangan arusnya.
“Retakan itu?” tanya Aksa.
Seravyn mengangguk.
Namun cara ia memandang jalur cahaya itu membuat kata retakan terasa jauh lebih besar daripada sekadar kerusakan kecil.
“Gerbang Semesta menjaga keseimbangan dunia,” katanya.
Aksa menatap pulau-pulau yang melayang di kejauhan.
Beberapa masih bersinar terang. Beberapa mulai redup seperti kota yang lampunya padam satu per satu ketika malam menjadi terlalu larut.
“Dan sekarang salah satunya rusak,” kata Aksa.
Seravyn menggeleng perlahan.
“Bukan rusak.”
Ia tetap menatap jalur cahaya itu.
“Retak.”
Satu kata.
Namun kata itu terasa berat sekali di udara.
Aksa menyilangkan tangan di dada.
“Dan kamu pikir retakan itu karena aku.”
Seravyn menoleh perlahan.
“Gerbang Semesta hanya terbuka oleh resonansi.”
Aksa mengerutkan kening.
“Resonansi.”
Seravyn berjalan beberapa langkah di atas tanah kristal. Cahaya di bawah kakinya bergerak seperti riak air yang disentuh batu kecil.
“Semesta memiliki cara sendiri untuk mengenali jiwa.”
Ia berhenti.
“Beberapa jiwa bergetar lebih kuat daripada yang lain.”
Aksa menatapnya.