Perjalanan mereka berlanjut dalam diam yang tidak benar-benar tenang.
Seravyn berjalan di depan, mengikuti jalur cahaya yang membentang di antara pulau-pulau batu yang melayang. Langkahnya ringan. Hampir tanpa suara. Seolah tempat ini sudah mengenal cara ia bergerak.
Aksa berjalan beberapa langkah di belakangnya.
Kalimat itu masih berputar di kepalanya seperti pintu yang tidak mau tertutup.
Jiwamu memiliki resonansi yang sama dengan Gerbang Semesta.
Ada kalimat yang tidak selesai ketika suara berhenti mengucapkannya. Kalimat seperti itu tidak pergi. Ia duduk di dalam pikiran seseorang, diam saja, lalu perlahan mulai mengubah cara orang itu melihat dirinya sendiri.
“Jadi sekarang aku bukan cuma tersesat,” kata Aksa akhirnya.
Ia menghela napas kecil.
“Aku juga masalah.”
Seravyn tidak langsung menoleh.
“Belum tentu.”
Jawaban itu pendek.
Namun tidak cukup untuk membuat kata-kata sebelumnya berhenti bergema di kepala Aksa.
Aksa mengembuskan napas pelan.
“Cara kamu bilang belum tentu itu terdengar seperti kabar buruk yang belum kamu rapikan.”
Kali ini Seravyn berhenti.
Di depan mereka dunia tiba-tiba terbuka lebih luas.
Aksa yang tadi masih tenggelam dalam pikirannya akhirnya mengangkat wajah.
Lalu ia terdiam.
Di hadapan mereka terbentang lautan.
Namun laut itu tidak seperti laut yang pernah ia kenal di bumi.
Permukaannya tidak benar-benar tampak cair. Ia berkilau seperti kaca yang hidup. Bening. Terlalu tenang sampai membuat seseorang merasa tidak nyaman hanya dengan menatapnya terlalu lama.
Cahaya langit jatuh di atasnya lalu pecah menjadi gelombang tipis. Seolah permukaan itu menyimpan terlalu banyak wajah yang tidak ingin muncul bersamaan.
Aksa melangkah mendekat.
“Ini laut?”
Seravyn berdiri di tepinya. Angin pelan membuat ujung rambutnya bergerak lembut.
“Ini Laut Memori.”
Nama itu diucapkan sederhana.
Namun setelah kata itu keluar, tempat itu terasa jauh lebih sunyi.
Aksa menatap permukaan yang berkilau itu.
Di bawah cahaya samar, bayangan-bayangan bergerak perlahan. Tidak jelas. Tidak utuh. Seperti potongan hidup yang tenggelam terlalu lama di tempat yang tidak pernah benar-benar melupakan apa pun.
“Memori siapa?” tanyanya.
Seravyn tidak berkedip saat menatap laut itu.
“Semua dunia.”
Aksa tidak menjawab.
Ia berlutut di tepi air.
Dari dekat laut itu terlihat lebih aneh.
Yang bergerak di dalamnya bukan sekadar bayangan.
Ada kota yang tidak ia kenal. Langit yang asing. Wajah-wajah yang datang lalu hilang sebelum sempat benar-benar terlihat.
Semua melintas seperti ingatan yang tidak sempat disimpan manusia, lalu dibawa ke tempat ini agar tidak benar-benar lenyap.
Untuk sesaat Aksa merasa laut itu seperti lemari tua yang terlalu penuh. Menyimpan hal-hal yang sudah lama tidak digunakan, tetapi tidak pernah benar-benar dibuang.
“Kenapa kita datang ke sini?” tanyanya pelan.
Seravyn berdiri di sampingnya.
“Karena Laut Memori selalu menunjukkan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan.”
Aksa menoleh.
“Tentang apa?”
Seravyn menatap permukaan laut.
“Tentang apa yang masih tinggal di dalam jiwamu.”
Angin bergerak pelan.
Aksa kembali melihat air di depannya.
Ia tidak tahu apa yang ia cari.
Mungkin ia tidak mencari apa pun.
Mungkin manusia memang sering seperti itu. Mendekati sesuatu yang ia tahu bisa melukainya, hanya karena diam-diam ia ingin memastikan bahwa luka itu masih ada.