Air Laut Memori masih bergetar ketika bayangan gelap itu mulai naik dari kejauhan.
Pada awalnya Aksa mengira itu hanya pantulan cahaya langit. Sejak tiba di dunia ini ia sudah melihat terlalu banyak hal yang sebelumnya tidak pernah masuk ke dalam bayangannya. Cahaya yang bergerak seperti sungai. Pulau yang melayang tanpa bumi. Laut yang menyimpan kenangan yang bahkan bukan miliknya.
Namun yang muncul di tengah laut itu bukan cahaya.
Sesuatu sedang mendekat.
Seravyn berdiri diam di tepi air. Dari luar ia tampak tenang seperti biasa, tetapi Aksa menangkap perubahan kecil pada dirinya. Bahunya sedikit mengeras. Gerakan itu begitu halus sampai hampir tidak terlihat, namun cukup untuk membuat Aksa mengerti bahwa kali ini mereka tidak hanya sedang menyaksikan keanehan dunia ini.
Mereka sedang melihat bahaya.
“Jangan sentuh air lagi,” kata Seravyn pelan.
Aksa berdiri perlahan. Matanya masih tertuju pada laut yang kini tidak lagi terlihat tenang.
“Makhluk kehampaan itu?”
Seravyn mengangguk.
“Laut Memori seharusnya tenang. Jika sesuatu bisa bangkit dari dalamnya, berarti retakan Gerbang sudah mulai menjalar ke tempat yang seharusnya aman.”
Permukaan laut pecah.
Sosok besar muncul dari dalam air seperti kegelapan yang dipaksa naik ke permukaan.
Tubuhnya tidak benar-benar padat. Ia menyerupai kabut hitam yang terus berubah bentuk, seperti asap yang tidak memiliki sumber api. Di dalam gelap itu ada kilau kecil.
Banyak sekali.
Mata.
Aksa mundur satu langkah.
“Baik,” gumamnya. “Itu jelas bukan sesuatu yang ingin kuajak berbicara.”
Seravyn mengangkat tangannya.
Cahaya tipis muncul di telapak tangannya lalu membesar menjadi lingkaran energi yang berdenyut pelan.
“Makhluk itu tidak benar-benar hidup,” katanya.
Aksa masih menatap sosok gelap yang bergerak semakin dekat.
“Kalau begitu kenapa rasanya seperti ia sangat ingin melihat kita mati?”
Seravyn tidak menjawab.
Makhluk itu memancarkan gelombang yang tidak benar-benar terdengar. Sesuatu yang merambat ke seluruh tubuh. Dingin memenuhi udara lalu merayap sampai ke tulang.
Air di sekitarnya berguncang pelan.
Cahaya di Laut Memori meredup sedikit, seolah laut itu sendiri menolak kehadiran sesuatu yang datang dari tempat yang salah.
Seravyn melangkah maju.
“Berdirilah di belakangku.”
Kali ini Aksa tidak membantah. Ia mundur beberapa langkah, meskipun matanya tetap mengikuti setiap gerakan makhluk itu.
Ketika tubuh kabut itu menyentuh tanah kristal, udara di sekitar mereka berubah.
Lebih dingin.
Bukan dingin malam. Bukan dingin hujan.
Lebih seperti dingin dari rumah yang sudah lama kosong.
Seravyn mengangkat tangannya lebih tinggi.
Cahaya di telapak tangannya pecah menjadi garis energi yang berputar seperti lingkaran kecil langit.
“Pergilah kembali ke kehampaanmu.”
Makhluk itu tidak berhenti.
Ia justru bergerak lebih cepat.
Seravyn menggerakkan tangannya.
Cahaya melesat ke depan dan menghantam tubuh makhluk itu. Ledakan tipis pecah di udara. Kabut hitamnya terpecah berhamburan seperti asap yang diterpa angin keras.
Untuk sesaat bentuknya runtuh.
Serpihan gelap terhempas ke segala arah sebelum kembali bergulung di atas permukaan air.
Aksa sempat berpikir semuanya selesai.
Namun beberapa detik kemudian kabut itu mulai bergerak lagi.
Serpihan gelap berkumpul. Berputar. Lalu merapat kembali hingga bentuknya utuh seperti sebelumnya.
Seolah cahaya yang menghantamnya tidak melukai apa pun.