Hutan Astral tidak pernah benar-benar gelap.
Bukan gelap yang menelan segalanya sampai tidak tersisa apa pun. Lebih seperti cahaya yang ditahan sedikit, seperti seseorang yang menutup jendela rumah tua namun sengaja menyisakan celah kecil agar malam tetap bisa masuk tanpa sepenuhnya menguasai ruangan.
Pepohonan tinggi berdiri rapat di mana-mana. Batangnya tua. Cabangnya saling bertaut seperti tangan yang sudah terlalu lama saling menggenggam. Langit hampir tidak terlihat di atas sana.
Hampir.
Namun di sela-sela ranting yang rapat itu masih ada cahaya kecil yang bergerak pelan.
Partikel-partikel itu melayang di udara malam. Ringan sekali. Seperti debu yang lupa bagaimana cara jatuh. Seperti sesuatu yang sudah terlalu lama berada di udara sampai bumi berhenti mencoba memanggilnya pulang.
Aksa berjalan di samping Seravyn tanpa banyak bicara.
Langkah mereka pelan. Hampir tidak terdengar. Tanah hutan terasa lembut di bawah kaki, anehnya terlalu lembut, seolah tempat ini memang tidak menyukai suara langkah yang terlalu jelas.
Seolah hutan itu sendiri sedang mendengarkan.
Keheningan di sana berbeda dari Laut Memori.
Laut terasa seperti tempat kenangan disimpan. Seperti ruang besar yang dipenuhi gema masa lalu. Namun hutan ini tidak terasa seperti tempat penyimpanan.
Lebih seperti tempat sesuatu disembunyikan.
Bukan karena semesta ingin merahasiakannya. Lebih karena semesta belum siap mengatakannya.
Aksa akhirnya memecah diam.
“Makhluk tadi tidak akan mengikuti kita?”
Seravyn menggeleng kecil.
“Makhluk kehampaan tidak menyukai tempat yang hidup.”
Aksa melirik pepohonan di sekitar mereka. Lama. Seolah baru benar-benar memperhatikan batang-batang tua yang berdiri diam di sekeliling mereka.
“Jadi hutan ini hidup.”
Seravyn berhenti di dekat salah satu pohon.
Ia menyentuh batangnya dengan ujung jari.
Di tempat sentuhan itu muncul cahaya kecil.
Ia hidup hanya sesaat. Seperti napas yang baru saja dilepaskan. Lalu cahaya itu meresap kembali ke dalam kulit pohon perlahan sampai hilang tanpa bekas, seolah tidak pernah ada.
“Semua yang ada di dunia ini hidup dengan caranya sendiri,” katanya pelan.
Aksa menatap pohon itu beberapa detik.
Ada sesuatu tentang cahaya kecil itu yang membuatnya sulit langsung berpaling.
“Termasuk Gerbang Semesta?”
Seravyn tidak langsung menjawab.
Mereka berjalan lagi.
Hutan perlahan terbuka di depan mereka hingga akhirnya mereka tiba di sebuah ruang kosong di tengah pepohonan.
Tanah di sana ditutupi rumput bercahaya.
Bukan cahaya yang tajam. Lebih seperti kilau lembut yang menyebar di tanah. Seperti bintang-bintang kecil yang jatuh dari langit dan entah bagaimana memilih untuk tinggal di bumi.
Cahaya itu menyelinap di antara akar dan batu.
Tenang.
Diam.
Membuat tempat itu terasa seperti dunia sedang menarik napas panjang yang lambat.
Seravyn duduk di atas batu datar.
Dan sejak awal mereka bertemu, Aksa melihat sesuatu di wajahnya yang hampir tidak pernah muncul sebelumnya.
Lelah.
Bukan lelah tubuh.
Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu lama membawa sesuatu sendirian.
Aksa berdiri beberapa detik sebelum akhirnya duduk di batu di depannya.
“Sejak aku datang ke sini,” katanya pelan, “kamu terlihat seperti seseorang yang menyimpan terlalu banyak rahasia.”
Seravyn menatap langit di antara cabang-cabang pohon.
“Rahasia bukan sesuatu yang ingin disimpan.”
Ia berhenti sebentar. Kalimatnya menggantung di udara seperti sesuatu yang belum selesai diputuskan.
“Kadang rahasia hanya sesuatu yang tidak boleh diucapkan.”