Hutan Astral tidak lagi terasa tenang.
Angin masih bergerak di antara cabang-cabang pohon, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di dalamnya. Desirnya terdengar lebih tajam. Cahaya kecil yang biasanya melayang santai kini bergerak lebih cepat, berpencar di udara seperti kunang-kunang yang tiba-tiba kehilangan arah dan tidak tahu harus kembali ke mana.
Aksa yang pertama menyadarinya.
Ia berhenti sebentar, menatap udara di sekeliling mereka seperti seseorang yang mencoba mendengar sesuatu yang belum sempat menjadi suara.
“Ada yang berubah.”
Seravyn sudah lebih dulu berhenti beberapa langkah di depan.
Ia menatap langit yang terlihat di antara pepohonan. Arus cahaya yang biasanya bergerak tenang kini tampak kacau, seperti sungai yang tiba-tiba kehilangan jalurnya.
“Retakan itu semakin besar,” katanya pelan.
Aksa mengikuti arah pandangnya.
Di langit yang luas itu sebuah garis gelap membelah cahaya.
Tidak besar.
Namun cukup jelas untuk membuat perasaan tidak enak muncul di dada siapa pun yang melihatnya. Seperti retak tipis pada kaca yang awalnya terlihat kecil, sampai seseorang sadar kaca itu sebenarnya sudah mulai pecah dari dalam.
“Apakah itu Gerbang?” tanya Aksa.
Seravyn mengangguk perlahan.
“Pusatnya.”
Beberapa detik berlalu tanpa kata.
Aksa menarik napas panjang.
“Kalau begitu kita sudah dekat.”
Seravyn menoleh kepadanya.
“Semakin dekat kita ke Gerbang, semakin tipis batas antara dunia.”
Aksa mengangkat alis sedikit.
“Dan itu berarti?”
Seravyn menjawab dengan suara pelan.
“Makhluk kehampaan akan lebih mudah masuk.”
Seolah semesta benar-benar mendengar kalimat itu, tanah di bawah kaki mereka bergetar.
Tidak keras.
Namun cukup untuk membuat pepohonan Astral berdesir. Cahaya kecil di udara berhamburan seperti bintang yang tiba-tiba terusik dari tidur panjangnya.
Aksa menoleh ke belakang.
Di antara bayangan pohon sesuatu bergerak.
Bukan satu.
Banyak.
Kabut gelap merayap di antara batang-batang pohon seperti asap yang hidup. Di dalam gelap itu mata-mata kecil mulai muncul. Satu. Lalu lebih banyak lagi. Kilau dingin yang bergerak di dalam kegelapan.
Makhluk kehampaan.
Aksa mengembuskan napas pelan.
“Sepertinya kita tidak datang sendirian.”
Seravyn mengangkat tangannya.
Cahaya berkumpul di telapak tangannya, membentuk lingkaran kecil yang berdenyut seperti jantung cahaya.
“Bersiaplah.”
Makhluk pertama melompat keluar dari bayangan.
Tubuhnya tidak memiliki bentuk yang benar-benar tetap. Kabut gelap itu mengembang lalu menyusut lagi, seperti sesuatu yang bahkan belum selesai terbentuk.
Seravyn bergerak cepat.
Cahaya dari tangannya melesat ke depan dan menghantam makhluk itu. Tubuh gelapnya pecah seperti asap yang diterpa angin kencang sebelum kembali menggumpal beberapa langkah dari mereka.
Namun yang lain sudah datang.
Satu.
Dua.
Lima.
Bayangan hitam bergerak di antara pepohonan. Muncul sebentar lalu hilang lagi di balik batang pohon, seperti malam yang berjalan.