Langit di atas Gerbang Semesta tampak seperti sesuatu yang sedang pecah dari dalam.
Cahaya yang biasanya mengalir tenang kini bergerak tidak menentu. Arus galaksi saling bersilangan seperti sungai yang kehilangan jalurnya. Tidak ada lagi ritme yang rapi di sana. Hanya gerakan yang terasa gelisah. Seperti langit sendiri tidak lagi yakin bagaimana ia harus bergerak.
Di tengah langit itu berdiri lingkaran raksasa Gerbang Semesta.
Cahaya mengelilinginya seperti mahkota yang terlalu besar untuk dunia mana pun. Namun mahkota itu kini retak. Garis-garis gelap menjalar di permukaannya, memanjang dari satu sisi ke sisi lain seperti luka yang perlahan membuka dirinya sendiri.
Setiap denyut energi dari Gerbang membuat tanah kristal di bawah kaki mereka bergetar.
Tidak keras.
Namun cukup untuk membuat siapa pun yang berdiri di sana mengerti satu hal yang tidak ingin ia pikirkan terlalu lama.
Sesuatu yang sangat besar sedang runtuh.
Aksa berdiri memandangnya lama.
“Jadi itu Gerbangnya.”
Seravyn tidak menjawab.
Matanya terpaku pada retakan yang terus bergerak di permukaan cahaya.
“Retakannya sudah sampai inti,” katanya pelan.
Angin tipis melintas di dataran kristal. Serpihan cahaya bergerak perlahan di udara seperti debu bintang yang tidak tahu harus jatuh ke mana.
Aksa menarik napas.
“Kalau kita terlambat?”
Seravyn tetap tidak menjawab.
Namun Aksa tidak benar-benar membutuhkan jawabannya.
Ia sudah tahu.
Aksa melangkah maju.
Seravyn langsung meraih tangannya.
“Aksa.”
Suaranya pelan. Namun genggamannya kuat.
Aksa menoleh.
“Jika kamu menggunakan resonansi jiwamu untuk menutup Gerbang…”
Seravyn berhenti.
Kalimat itu tidak selesai.
Namun Aksa sudah mengerti bagian yang tidak diucapkan.
“Aku tidak akan kembali,” katanya.
Seravyn menggenggam tangannya lebih erat.