Gerbang Semesta

Nauna
Chapter #9

Jalan Yang Masih Terbuka (ENDING)

Cahaya dari Gerbang Semesta meledak memenuhi langit.

Bukan seperti ledakan yang menghancurkan sesuatu. Tidak ada pecahan. Tidak ada kehancuran. Lebih seperti sesuatu yang selama ini ditahan terlalu lama akhirnya dilepaskan sekaligus. Cahaya yang menumpuk di balik retakan tiba-tiba mengalir bebas, dan resonansi yang lahir dari jiwa Aksa menyebar melalui jalur-jalur dunia.

Ia menjalar seperti denyut.

Seperti sesuatu yang sangat tua tiba-tiba teringat bagaimana cara bernapas.

Arus cahaya yang sebelumnya kacau mulai melambat. Tidak langsung. Tidak sekaligus. Namun perlahan ritme lama kembali.

Perlahan.

Seperti seseorang yang akhirnya berhasil menenangkan jantungnya setelah terlalu lama berlari tanpa arah.

Retakan yang membelah lingkaran Gerbang mulai menyatu.

Satu demi satu.

Garis-garis gelap itu menutup seperti luka lama yang akhirnya berhenti terbuka setelah terlalu lama dibiarkan. Cahaya di permukaan Gerbang bergerak pelan mengikuti denyut resonansi itu, seperti sesuatu yang sedang menyembuhkan dirinya sendiri.

Lalu semuanya menjadi sunyi.

Sunyi yang dalam.

Namun tidak lagi menakutkan.

Semesta kembali tenang.

Arus galaksi mengalir perlahan di langit seperti sungai cahaya yang akhirnya menemukan jalurnya kembali. Pulau-pulau batu yang sebelumnya bergetar kini melayang damai di ruang luas, di antara hamparan bintang yang tidak memiliki ujung.

Gerbang Semesta berdiri di pusat dunia itu.

Lingkaran cahaya raksasa yang menjaga jalur dunia kini kembali stabil. Energinya berdenyut tenang seperti jantung yang akhirnya menemukan irama yang benar setelah hampir berhenti.

Di tepi dataran kristal, Seravyn masih berdiri.

Angin kosmik bergerak pelan di rambutnya. Serpihan cahaya kecil berkilau di udara seperti debu bintang yang tidak pernah benar-benar jatuh.

Ia menatap Gerbang tanpa berkata apa-apa.

Sudah lama sejak hari itu.

Waktu tetap berjalan seperti biasa bagi semesta. Dunia lahir. Dunia runtuh. Cahaya mengalir di jalurnya seperti sungai yang tidak pernah berhenti.

Namun bagi Seravyn, waktu tidak pernah terasa sama lagi.

Setiap denyut Gerbang selalu membawanya kembali ke satu momen.

Satu tempat.

Satu jiwa yang pernah berdiri di sana.

“Aksa,” bisiknya.

Namanya masih terasa hidup di udara.

Seravyn menutup matanya sebentar.

Selama ratusan tahun menjaga Gerbang Semesta, ia telah melihat banyak dunia lahir dan runtuh. Ia menyaksikan waktu mengalir seperti arus yang tidak pernah berhenti. Ia telah belajar bahwa kehilangan adalah sesuatu yang selalu datang bersama kehidupan.

Namun semua itu tidak pernah terasa seberat kehilangan ini.

Ia membuka matanya kembali.

Gerbang Semesta terus berputar.

Seravyn tetap berdiri di sana.

Untuk waktu yang lama ia tidak bergerak.

Dataran kristal yang luas itu terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Tidak ada langkah lain. Tidak ada suara yang memecah keheningan.

Hanya angin kosmik yang bergerak pelan.

Tempat di mana Aksa pernah berdiri kini kosong.

Seravyn menatapnya lama.

Ia telah melihat banyak dunia berakhir.

Lihat selengkapnya