Langit di atas peron itu selalu berwarna abu-abu, persis seperti warna kardus susu yang dibiarkan kehujanan selama berhari-hari. Tidak ada matahari, tidak ada bintang, hanya cahaya remang yang berasal dari lampu-lampu jalan yang berkedip malas, seolah enggan menerangi siapa pun yang menunggu di sana.
Arsheya duduk di bangku kayu yang catnya mulai mengelupas. Di pangkuannya, tergeletak sebuah koper tua yang tidak pernah ia ingat kapan ia mengepaknya. Ia tidak tahu harus ke mana. Ia hanya tahu bahwa ia harus menunggu.
Di tangannya, sebuah kompas kuningan terasa dingin dan berat. Jarumnya bergetar hebat, berputar liar mencari utara, sebelum akhirnya berhenti mati di arah yang tidak ada dalam peta mana pun.
Arsheya menatap rel kereta yang berkarat. Tidak ada suara decit roda besi, bahkan tidak ada hiruk-pikuk penumpang yang berebut tempat duduk. Hanya ada keheningan yang begitu padat hingga terasa mencekik.