Gerha Gari

Wanda Alia
Chapter #1

Prolog

Kepala Atika menyundul-nyundul perutku, menggesek-geseknya, seakan-akan dengan itu ia bisa melasak masuk ke rumahnya yang dulu. Wajah kecilnya kosong dan sadar, matanya berbinar menatap ke arah perutku, atau mendongak menengok wajahku, atau menoleh ke arah ayahnya yang sedang menyetir. Sesekali tubuhnya yang kecil meringkuk lebih rapat lagi ke pangkuanku. Dia memang tak mengatakan apa-apa, memang demikian, tetapi aku tahu dia agak gelisah. Aku pun gelisah.

Di sampingku, Mas Adam fokus menyetir, tangan kirinya sesekali mengusap kepala Atika sehingga anak itu tenang, lalu pandangannya kembali ke jalanan. Awal berangkat, ia masih punya topik mengobrol. Lama kelamaan, suaranya hilang dan bahkan wajahnya ikut tegang. Hanya saat kutanya sesuatu saja dia akan menjawab, lalu hening lagi. Senyumnya juga lama-kelamaan menjadi palsu sehingga aku tidak bisa memalsukan milikku juga. Kami semua gelisah, jadi ya sudahlah.

Setelah dua jam perjalanan dan melompati satu kabupaten penuh, kami akhirnya sampai di halaman luas sebuah rumah. Mas Adam tak langsung mematikan mesin mobilnya, hanya mengamati lingkungan sekitar tempat mobil kami berhenti. Sambil sesekali menolah-noleh ke arah ramainya pertetanggaan di sekitar bangunan ini, tangannya menggulir-gulirkan layar peta di ponselnya, mencocokkannya dengan keadaan sekitan, dan memastikannya padaku.

“Yang ini?”

Aku mengangguk. Kugendong Atika lebih nyaman di pangkuanku. “Kita sudah sampai!” seruku.

Mas Adam keluar lebih dulu, kemudian aku, kemudian kami sama-sama berdiri di depan mobil menghadap ke bangunan tinggi yang ada di depan kami. Bangunan itu adalah bangunan dua lantai yang cukup besar. Cat rumahnya berwarna putih dengan berbagai ukiran kayu pada bingkai pintu dan jendela, serta tiangnya. Cat sekundernya berwarna kecoklatan terang yang mengkilap dengan pernis tua. Kuno, tapi tetap bersih.

“Sepertinya lumayan nyaman,” kata Mas Adam.

Ya, besar dan bersih. Dia tak akan menyebutkan agak menyeramkan di depan Atikah. Atau mungkin baginya tidak menyeramkan. Hanya agak sepi saja. Kalau bagiku sih, agak lebih sepi dari yang kubayangkan. Atau mungkin aku hanya parno saja? Biasanya sih memang suka cocoklogi apakah sebuah tempat punya aura atau tidak. Mungkin kebiasaanku berlangganan podcast horor di suatu aplikasi.

“Ya, bagus. Udaranya juga tidak lembab,” sambung Mas Adam. Ia lalu merenggut Atikah dari gendonganku untuk dia gendong sendiri. “Sudah dihubungi kan penjaganya?”

“Sudah kok, mungkin kita ketuk saja,” jawabku.

Aku dan Mas Adam baru melangkah beberapa kali saat pintu terbuka dan seorang wanita muncul dari balik pintu dengan senyuman yang membuat matanya menyipit. “Monggoh,” katanya. “Mbak Mala, ya?”

Aku membalas senyum, mengangguk. “Saya datang sama suami saya, Bu Panca. Nah, ini anak saya yang mau ikut,” kataku.

Kami pun digiring masuk ke ruang tamu yang rupanya juga luas sekali. Ada tempat duduk berupa sofa berwarna mahogani yang cukup nyaman. Properti dan perabotnya tidak cukup banyak, bersih, dan rupanya ramah untuk anak berusia 4 tahun seperti Atikah. Sebab, selama beberapa tahun ke depan, Atikah akan menginap di sini, bersamaku, sepanjang perkuliahanku, jauh dari Mas Adam.

“Asramanya seperti rumah tinggal ya, Bu?” seloroh Mas Adam untuk mencairkan suasana.

Lihat selengkapnya