Gerha Gari

Wanda Alia
Chapter #2

BAB 1. Kelambu Putri

Selama menikah, Mas Adam memang sering kasihan padaku. Salah satunya seperti tempo hari saat malam itu aku luluh lantah menangis. Akhirnya, kepergianku ke asrama itu disanggupinya. Dia mengajukan beberapa syarat seperti tidak ada main-main ke luar bersama teman-teman kampus bersama Atika maupun tidak, kerja kelompok wajib segera pulang, tidak ada menginap di luar asrama, tentu saja. Kemudian, ia bilang akan menjemput kami setiap dua minggu untuk pulang ke rumah. Memang sih, perjalanan dari kampus ke rumah hanya sekitar 2 jam, tapi kurasa akan melelahkan baginya atau bagi Atika.

Agak seperti kekangan ya? Tapi aku juga maklum. Dia berkorban banyak, sepertinya dengan syarat-syarat yang dia ajukan, itu masih murah. Aku juga tidak mungkin menenteng Atika pergi ke sana-sini bahkan untuk alasan sosialisasiku dengan warga sesama perantauan di perkuliahan. Lalu sama sekali tidak mungkin untuk membawa Atika menginap di luar asrama, di tempat orang. Lalu jika ada kegiatan berkelompok? Acara kampus yang penting? Jujur saja aku belum mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin kritis itu. Mas Adam juga mungkin punya regulasi sendiri. Namun, yang terpenting saat ini hanyalah aku harus menempati asrama itu untuk berkuliah. Yang lain bisa menyusul.

Menjelang hari-hari keberangkatanku, Mas Adam dan Atika makin dekat. Tumben-tumbenan sekali dia juga cuti hanya untuk bermain dengan Atika di taman. Atika juga makin lengket dengan ayahnya, menggelayuti tangan dan kaki, bahkan sesekali tertawa hingga mengikik dengan gurauan-gurauan Mas Adam. Bahkan saat kami berangkat ke Yogyakarta hari ini, Atika memilih untuk duduk di pangkuan ayahnya yang menyetir mobil. Kelihatannya saja tidak nyaman karena harus berbagi tempat dengan kemudi. Namun, Atika terlihat antusias saja.

Aku merasa bersalah.

Meski bukan pertama kalinya Atika berpisah dengan Mas Adam atas dinas-dinas Mas Adam ke berbagai pulau dan kota, yang kali ini rasanya berbeda. Penyebabnya adalah aku, bukan lagi Mas Adam yang bisa kugunakan alasan saat Atika kangen dan menangis. Kali ini jika Atika menangis karena tak rela dipisahkan dengan ayahnya, maka ini akan mengutukku sepanjang waktu. Ada sedikit keinginan di hatiku agar saat Mas Adam kembali setelah mengantar kami, Atika tidak menangis. Saat aku berkuliah bulan-bulan berikutnya, semoga juga tidak. Lalu perasaan-perasaan itu mengejekku seakan-akan aku adalah Ibu yang egois.

“Sudah bicara soal kelambunya?” 

Mas Adam tiba-tiba bersuara dan menunda rasa bersalahku. “Sudah. Kan kemarin sudah ditanyain.”

Mas Adam masih melihat depan, mengemudi sebelah tangan karena satu tangannya terus membelai kepala Atika. “Bukan. Soal aku yang pasang kelambunya sendiri.”

“Oh, soal itu. Sudah. Katanya boleh. Anak-anak asrama sudah diberitahu bahwa kita izin memasang kelambu sendiri.”

“Kelambu?” Mata Atika bulat besar saat mendongak ke arah wajah ayahnya.

“Kelambu,” sahut Mas Adam. “Penutup ranjang, untuk putri-putri cantik,” katanya sambil mencium kening Atika. Ia kemudian menengok sedikit ke arahku sebelum kembali melemparkan pandangan ke jalan. “Carikan contoh kelambu di google, Yang,” katanya.

Wajah Mas Adam hangat, suasana menjadi hangat. Aku dengan senang hati menggulirkan layar ponselku untuk mencari contoh gambar-gambar kelambu yang cantik dan lucu, mirip seperti yang telah kusiapka. Mas Adam siapkan sebenarnya. Untuk menyiasati ranjang kami di tengah-tengah ranjang terbuka di kamar asrama, dia memperhitungkan kelabu sebagai alat yang memadai. Setidaknya ada sedikit privasi untukku dan Atika saat tidur atau sekadar tidur-tiduran.

“Lihat,” kataku sembari menunjukkan layar ponselku kepada Atika.

Lihat selengkapnya