Hujan selalu membawa kenyamanan dan kenangan. Menabur aroma khas pethicor pada penciuman. Selalu membuat Sabrina berhasil terhanyut dalam lamunan. Tapi tidak kali ini. Dadanya tiba-tiba sesak mendorong air mata yang selama ini sangat susah menetes. Semua itu bermula tadi pagi. Saat dengan tegas Dhani meminta Izin kepada Sabrina untuk menikah lagi.
Hujan masih deras, Dhani belum pulang ke rumah. Ucapan Dhani seolah ribuan panah beracun yang menancap tepat dijantungnya. Mengantarkan seluruh racun melalui pembuluh darah ke semua organ tubuh. Sabrina menangis. “Apa salahku selama ini, Mas. Apa kurangku selama ini, Mas. Kenapa kau begitu tega,” desahnya dalam isak. “Kenapa ini harus terjadi ya Allah ...ujian atau azabkah ini?” Sabrina berkomunikasi dengan hatinya sendiri.