Gerimis Paling Bening di Kairo ( a.k.a Kaligrafi untuk Sabrina )

RENDRA ABIMANYU
Chapter #5

BUTIK HIJAB SABRINA

Tak ada yang paling membahagiakan bagi Maryam selain memiliki butik sendiri. Apalagi bisa kerjasama dengan Sabrina yang bukan hanya berpikir tentang uang melainkan hobi. Dani membeli sebuah kontainer. Awalnya Sabrina dan Maryam heran, tapi setelah Dani merenovasinya menjadi sebuah ruangan yang indah, mereka terpukau.

“Wow! Tidak menyangka sekali dari sebuah kontainer bekas bisa menjadi sebuah butik yang indah.” Maryam terpukau.

Sabrina senyum.”Aku juga tak menyangka. Mas Dhani benar-benar cerdas,” puji Sabrina pada suaminya.

Walau hanya ukuran 40feet. Dimana Panjang 12 meter, Lebar 2,5 meter dan tinggi 2,6 meter. Sangat cantik. Sesuai sisa tanah yang bisa dimanfaatkan di bagian terluar rumah Dhani Sabrina. Mereka sangat bahagia bisa memilikinya.  

"Alhamdulillah. Semua sudah terpajang ya." Pekik Sabrina bahagia.

"Mas, nanti jika ada stok kita buat dalam rumah aja, boleh ya? dekat ruang baca itukan ada ruang yang kita buat musala, Sabrina izin pakai ruang itu. Musala kita buat baru agak ke depan. Ruang Tamu kita cukup besar. Itu saja kita bagi sebagiannya untuk musala."Pinta Sabrina halus.

"Great. Isteri cerdas. Musala itu bisa masuk dari pintu samping kan. Jadi andai ke depan kita punya pegawai. Tidak akan sembarang lalu lalang. Cukup masuk dan mencari barang dari pintu samping. Kita kasih sekat akses ya ke ruang inti. Itu akan menjadi tugasku Sabrina." 

Maryam hanya tersenyum memperhatikan kemesraan mereka. Berulang jawab. Senang sekali melihatnya.

Maryam terus merapikan dan menjajar berbagai pernak-pernik butik mereka. Tidak hanya baju. Beberapa asesoris seperti bross baju, jepit jilbab, kalung, gelang tangan dan cincin serta sendal sepatu ethnic ada tersedia akan mereka jual.

Kolaborasi dengan Sabrina sangat fantastis. Sabrina penuh ide dan Maryam mengeksekusi ide tersebut. Menurut Sabrina sangat apik. Mereka hanya berdua bergantian menjalankan butik. Siang hari sabrina menunggui bersama Maryam. Hanya dijam saat Alvira pulang sekolah, Sabrina fokus ke rumah. Butik mereka hanya buka Pukul 10.00 WIB s.d 16.00 WIB. Hari Minggu Libur. 

Berdagang Online juga mereka jajal. Teman-teman Maryam di berbagai belahan dunia semua diinformasikan tentang operasionalnya butik tersebut. Omset semakin bertambah. Suatu hari sebuah stasiun TV nasional mulai melirik usaha mereka. Mempublikasi apa yang mereka jual. Tenun dan batik khusus bagi mereka yang berhijab syar'i. Wawancara dan expose tersebut mau tidak mau mulai membuat kewalahan.

"Kita mendapat undangan pameran dari Kedutaan Indonesia di Malaysia, semua akomodasinya difasilitasi, acara diarrange langsung oleh Kantor Kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur," ucap Sabrina penuh semangat. 

"Oh, ya?" Kaget Maryam. "Kapan?" tambahnya.

"Bulan depan, tapi apa kita sanggup? stok kita hanya tinggal sedikitkan?" 

"kita harus sanggup. Tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini."

"Baiklah. Sepertinya kita harus sudah perlu menambah pegawai ya." 

"Ide yang baik. Khusus untuk project ini saja, kita memang harus melakukannya Sabrina. Project ini kesempatan kita menjadi besar." 

Persiapan demi persiapan mulai mereka lakukan. Maryam bagian tekhnis mengeksekusi bahan beserta 2 orang pegawai baru tambahan. Sabrina hunting bahan dan segala pernak-pernik.

"Mas Dhani, Sabrina izin pamit ke Jakarta ya. 2 hari saja. Sabtu pagi berangkat dan pulang minggu sore. Ada beberapa barang yang Sabrina butuhkan di Jakarta. Tidak bisa by online membelinya. Takut kecewa. Karena ada taste yang lebih puas kalau lihat langsung." Sabrina memohon pada Dhani pada suatu malam.

"Untuk acara Indonesia festival itu?" seru Dhani.

"Ya, mas."

"Dengan Maryam kah?" 

"Tidak mas. Mungkin dengan Ratih saja, pegawai yang baru. Maryam sibuk mempersiapkan semuanya. Kami butuh percepatan." Sabrina memberi alasan.

Dhani berpikir sejenak.

"Mas tidak bisa menemani, minggu ini, banyak deadline, bagaimana jika minggu depan," saran Dhani.

“Nggak apa-apa, Mas. Sabrina sendiri saja. Insya Allah tidak ada apa-apa.”

Dhani memegang pipi istri tercintanya. “Mas percaya sama kamu, sayang. Hati-hati ya.”

Sabrina menggelanjut manja.”Makasih, Mas.”

***

Usai mengantar Sabrina ke Bandara, Dhani dan Alvira menuju butik. "Abi, mau ke butik juga?" tanya Alvira.

"Iya. Tadi ibu titip ini untuk diserahkan ke Tante Maryam," Dhani menunjukan selembar kertas.

“Ikutt..” 

Dhani senyum. Dia menuntun Alvira melangkah menuju Butik. Mereka memasuki butik.

"Tante Maryam, Ibu Badriah. Kami sudah pulang,” Alvira ceria dan dia memang sudah dekat dengan Maryam dan pegawai butik lainnya.

"Halo Alvira. Mau bantuin tante ya, " wajah Maryam membujuk jenaka. 

"Apa itu tante?" balas Alvira.

"Alvira, bantu pilih dong. Kain perca yang cocok utk padu padan. Lalu disemat dengan pentul dibahannya jadi langsung tante dan ibu Badriah bisa terinspirasi." Terang Maryam.

"Baik. Alvira memang tadi diminta Ummi bantu-bantu tante." Alvira sangat senang.

"Eits, ada abi, tante. Ada pesan ummi, untuk Tante." Alvira teringat abi yang masih menatap mereka dari ujung pintu.

"Oh, maaf Mas Dhani, Maryam pikir hanya untuk sekedar melihat-lihat." Maryam beranjak menuju Dhani.

Lihat selengkapnya