Suasana Ekspo cukup ramai. Sepertinya para peserta dari berbagai negara Asia sudah tiba semua. Dhani dan Maryam repot dalam proses administrasi dan technical meeting.Sementara Alvira memilih check in dan memasukkan sebagian barang-barang ke kamar yang disediakan bersama Mbak Ratihnya dan Bu Badriah.
Senja mulai berlabuh. Technical meeting selesai. Maryam tampak letih. Mereka menuju Cafetaria hotel. Dekat ruang ekspo. Maryam memilih menyudut menunggu Dhani yang masih berjejal langkah meletakkan beberapa barang dibantu Service Asisten dari Tim Event Orgnizer. Maryam mengagumi semangat Dhani.
Dhani mengedarkan pandangan. Kemudian matanya bertemu dengan mata Maryam yang juga sedang menatapnya. Mereka pun bertukar senyum.
Dhani menghampiri Maryam dan langsung duduk di dekatnya dan menarik nafas. “Alhamdulillah ..” desahnya.
Maryam senyum. Mengambil tisu dan menyerahkan pada Dhani.”Jangan terlalu capek, Mas,” katanya.
Dhani menerima tisu tersebut.”Bagaimana lagi,” jawabnya. Demi sebuah kesuksesan memang harus lelah. Tak ada kesuksesan yang diraih dengan leha-leha.
Maryam semakin kagum. Tapi berusaha menyembunyikan kekagumannya. “Ya sudah, kita kembali ke kamar untuk sebentar beristirahat, setelah itu kita ketemu di Lobi jam 19.00,” ucap Maryam.
Dhani mengangguk tanda setuju.
***
Opening Ceremony Ekspo tersebut sungguh luar biasa. Perdana Menteri hadir. Beberapa perusahaan Muslim seperti meliburkan pegawainya dan meminta hadir di acara tersebut. Benar-benar meriah.
Alvira sibuk meliput semua acara demi acara. Sesekali selfie dengan Abi, Maryam, Mbak Ratih dan Bu Badriah. Stand mereka cukup ramai dikunjungi. Setiap yang beli Maryam menjelaskan padu padan terbaik dan membantu memilihkan kepada para customernya. Sepertinya untuk hari I, stand mereka jadi favorit. Tidak hanya baju yang laku tapi juga mukena dan berbagai perangkat alas tidur (bed cover) yang dirancang Sabrina sangat apik. jam 20.00 WIB waktu setempat.
"Bagaimana? puas ya rasanya hari ini. Kita hitung dulu ya berapa pendapatan hari ini." Ucap Dhani sebagai pemegang kas.
Senyumnya sangat sumrigah. "Alhamdulillah. Sejumlah 278 juta." Dhani bergetar menyebutkannya.
"Masyaallah," Maryam tampak sangat bahagia. Mereka segera video call pada Sabrina.
"Ummi...Assalamualaikum," Sapa Alvira sangat bersemangat.
"Waalaikumussalam."
"Ummi. Kami rindu." Alvira mengarahkan smartphonenya pada abi, tante Maryam, mba Ratih dan Bu Badriah. Semua tersenyum dan melambaikan tangan sumrigah."
"Ummi, sudah sangat lebih sehatkan?
"Iya Nak. Ummi lebih baik."
"Tahukah berapa pendapatan hari ini ummi? Kata Alvira.
Sabrina, menggeleng lemah.
"Ayo tebak estimasinya, ummi." Seru Alvira.
"Kalau lihat riangnya anak ummi. Ummi tebak sekitar 100juta ya?" Sambil tertawa Sabrina menjawab.
"Ummi salah. Kita dapat 278 juta, ummi." Alvira terpekik. Yang lain tertawa menyertai.
"Masyaallah, alhamdulillah." Sabrina meneteskan air mata.
"Mohon doa ya ummi. Semoga besok kita makin lebih baik. Rezeki ummi baik.Semua yang ummi buat. Taplak, bed cover, sarung bantal untuk tonton TV lebih banyak laku ummi," jelas Alvira.
"Sabrina...aku bahagia," pekik Maryam. “Andai kau ada disini lelah ini benar-benar luar biasa berganti kebahagiaan.
Sabrina menutup mulutnya sangat bahagia. "Wow. Aku percaya padamu Maryam.Pasti solisit mu. Maryam memang punya power menawarkan sesuatu."
"Oh No. Semua ini kerja tim. Bahkan kekuatan doa seorang Sabrina. Aku yakin itukunci utama."
"Terima kasih untuk semuanya tim terhebatku. Istirahatlah. Besok kalian masih berjuang. Jangan lupa. Malam ini bersedekahlah untuk sekitar. Misal office boy yangmembersih stand kita. Bersedekahlah." Ingat Sabrina.
"Baik cintaku. Kami akan laksanakan perintah apapun dari Ibunda Ratu." Dhani tersenyum menggoda.
Sabrina tertawa renyah menimpali.
"Kami beres-beres dan bersiap tidur dulu ya ummi, mimpi indah ummi." Balas Alvira kembali.
Percakapan berakhir.
“Alvira duluan ya Abi. Letih. Serunya. Maryam tampak berjalan perlahan dibelakang.