Gerimis Paling Bening di Kairo ( a.k.a Kaligrafi untuk Sabrina )

RENDRA ABIMANYU
Chapter #8

Tsunami Rasa

Dhani sedang duduk santai di kantornya setelah sejak pagi melakukan aktifitas. Ia menyandarkan tubuhnya. Matanya terpejam. Namun tiba-tiba ia teringat hpnya. Sejak pagi ia belum menyentuhnya. Bagaimana kalau ada klien atau Sabrina menghubungi, pikirnya.

Memang benar. Ada beberapa sms masuk. Salah satunya dari Sabrina dan Maryam. Ia buka sms dari Sabrina lebih dulu. Bibirnya tersenyum. Membaca sms dari Sabrina yang begitu perhatian. 

Setelah itu ia membuka sms dari Maryam dan keningnga berkerut. “Mas, Maryam kok meggigil begini ya?” Dhani melihat waktu sms itu terkirim. Tadi pagi. Ah, bodohnya aku. Sepertinya Maryam sakit lagi, dan aku malah tak menjawab smsnya. Segera ia sentuh no Maryam. Mencoba meneleponnya. Tapi tak bisa dihubungi. Dhani semakin cemas. 

Tanpa pikir panjang dhani segera keluar dari ruang kerja. Kebetulan kantornya tidak begitu jauh dari rumah Maryam. Bahkan lebih jauh jika dibanding dengan tempat kerja Sabrina. 

Sampai di rumah Maryam, Dhani segera mengetuk pintu. Tapi tak ada jawaban. Dhani semakin panik. Ia dorong pintu. Ternyata tidak dikunci. Ia masuk. Nampak,Maryam terkulai diatas sofa. Diangkatnya langsung tubuh Maryam menuju pembaringan dikamar. 

Maryam sadar akan kehadiran Dhani. Direngkuhnya leher Dhani saat Dhani mengangkatnya. "Maryam sudah sadar? Aku segera hubungi Sabrina untuk menemani ya?"bisik Dhani.

"Mas Dhani. Jangan. Aku mohon maaf mas. Aku mohon maaf. Aku kangen mas. Semalaman aku tak tidur memikirkan mas Dhani. Sepertinya itu yang memicu demam dan gigil ini." suara Maryam lemah namun jelas terdengar.

Dhani mengurai tangan Maryam dan meletakkan ditempat tidur. "Maryam. Apa kata orang. Semua tau kau sendirian. Tiba-tiba aku ada disini. Itu akan merendahkanmu di mata mereka." Dhani mencoba mengingatkan Maryam."Aku tidak akan bisa lama disini." Dhani bersikap tegas.Dia ingat Sabrina dan pandang masyarakat.

"Mas Dhani tega?" Maryam meneteskan air mata.

"Maryam. Tempat ini tidak sehat bagimu. Sebaiknya Pindah ke tempat yang lebih baik ya. Apartemen temanku kosong. Mungkin kita bisa menyewanya sementara waktu ya." Bisik Dhani. 

"Bersiaplah. Kita pindah sekarang." Dhani tak ingin menunda. 

Dia bantu Maryam merapikan semuanya. "Bagaimana dengan rumah sewa ini?" tanya Maryam.

"Sementara dikunci saja." Ucap Dhani.

"Aku tadi bawa bubur ayam dan sop iga. Makanlah sebagai tambahan tenaga. Aku harus meninggalkanmu sekarang. Bersiaplah. Sekira 1 jam aku akan pesankan Taksi. Maryam berangkat ke Apartemen tersebut sendiri dulu ya. Aku tunggu disana. Biar aku bereskan prosesnya dulu." Entah apa yang ada dalam pikiran Dhani.

 Semua dituruti Maryam.Tak sampai satu jam setelah kepergian Dhani. Ada seorang perempuan paruh baya hadir. 

Lihat selengkapnya