Ada rasa sungkan dan tak nyaman saat tubuhnya mulai membaik. Entahlah, mungkin karena ia telah lama tak bersua dengan Sabrina, sahabatnya itu atau karena bisnis yang menjadi kesepakatan mereka, berjibaku akhirnya hanya dijalankan Sabrina seorang diri. Hingga ia akhirnya memberanikan diri kembali ke tempat usahanya.
"Sabrina, Assalamualaikum?" sapanya hati-hati.
"Waalaikumussalam. Masyaallah Maryam," Sabrina yang kaget menghambur ke pintu memeluk Maryam. "Maryam, seperti menghilang ditelan bumi. 3 bulan ini aku berusaha menghubungimu tapi tak aktif. Datang ke kosanmu kata tetangga menginap dirumah saudara sementara waktu. Ah, aku bingung." Sangat lepas Sabrina menyambut Maryam.
"Hp-ku, jatuh dan rusak. Baru bisa kuperbaiki." Maryam berkilah. Padahal ia sengaja mencabut kartu dan menggantinya. "Apa yang bisa ku kerjakan? Darimana aku harus memulainya?" ucap Maryam mencoba mengalihkan fokus Sabrina tentang dirinya.
"Benar Maryam sudah sembuh?" Sabrina berusaha membidik hati-hati.
"Iya, Sabrina. Jangan khawatir."
Mereka akhirnya larut dengan percakapan besar tentang kelanjutan bisnis bersama mereka.
Hari demi hari berjalan. Sampai suatu hari Sabrina mencuri dengar sebuah percakapan. "Ya mas. Maryam sudah baik. Jangan khawatir. Tidak perlu kontrol lagi. Dokter Aprilia tak perlu ke rumah lagi. Jangan khawatir lagi ya mas." ucap Maryam berbisik.
"Waalaikumussalam, mas." ucapnya menutup percakapan. Sabrina segera menimpali.
"Alhamdulillah, sepertinya sudah ada seseorang yang khusus memperhatikanmuMaryam. Aku turut bahagia." Tulus Sabrina menyentuh pundak Maryam dari belakang.
Begitu kagetnya Maryam. Hampir jatuh hp dalam genggamannya. Ia sengaja keluar ruang. Ke samping butik untuk menjawab telfon Laki-laki yang mulai dekat dengannya itu.
"Egh, Sabrina. Sangat mengagetkanku." serunya kikuk.
"Kenalin dong..." Sabrina senyum menggoda.
Maryam semakin gelagapan dengan pertanyaan Sabrina. "Mohon doanya ya Sabrina. Semua masih abu-abu. Masih baru mengenalnya. Aku belum berani berharap lebih." Maryam berkilah. Ah, Sabrina. Semoga Allah berpihak pada kami. Batin Maryam.
Suatu senja saat hujan kembali sangat deras. Maryam tertunduk kaku. Semua sudah pulang tinggal dirinya.
Sabrina menghampiri, "Bagaimana? mau menembus hujan? atau menginap disini saja?" Sabrina menawarkan.
"Sudah beberapa kali order taksi. Belum ada juga." Maryam menjawab dalam rona tak bergairah.
"Sudahlah, putuskan saja menginap disini ya, tak baik juga memaksa, nanti kambuh lagi sakitnya." bujuk Sabrina.