Pasca pernikahan abi. Alvira, seperti berada dikesunyian sebuah singgasana. Abi, genap 10 minggu fokus dan repot. Kemungkinan akan beginilah hari-hari kami selanjutnya. Pikirnya dalam hati. Lama ditatapnya jejer bingkai di dinding ruang keluarga. Umrah bersama, Liburan di Jepang dan Holland, bermain pasir di Lekuk Parangtritis semua seperti kenangan. Butuh berapa lama semua suasana ini akan mencair. Butuh berapa musimkah ummi akan dalam keterpakuan.
"Alvira, lagi apa nak?"
Tiba-tiba suara ummi menghentak pikirannya. Sabrina hadir dengan dua buah nampan mangkuk Pokat dengan siraman santan berikut fresh water. Alvira yang sibuk mempraktikan ilmu menulis kaligtafi dari Igo dengan serius sejenak meletakan kuas melukisnya di nampan kecil.
"Ummi, kaget Vira lo."
Sambil senyum dia memegang dada dan membulatkan mata hitamnya. Persis seperti Septian Dwi Cahyo, dalam lakon pantomimnya "Menjadi Nyata."
Sabrina tergelak melihatnya.
"Dugh segitunya. Hampir lompat tuh biji mata anak ummi." Sabrina menimpali. Mereka tertawa. Sabrina segera memberi mangkuk pokat santan pada Alvira. Ia juga bergerak mengambil coklat leleh disudut meja yang sebelumnya beberapa jam tadi telah ia racik sebagai topping pengganan siang ini.
"Ahad tanpa abi, sudah hampir ke 12 pekan ya ummi." Hampir berbisik suara Alvira. Ia takut gumamannya malah membuat Sabrina menetes air mata.Namun sebaliknya Sabrina malah menguatkannya. Alvira tertegun.
"Nak, ummi berharap Alvira tidak akan pernah sesedih yang ummi rasa. Alvira tetap disayang abi. Ummi yakin. Bisa kok nanti kita atur liburan bareng lagi. Sabar ya nak. Allah mungkin akan memberi banyak waktu untuk ummi dan Alvira makin saling menyayangi, makin kompak, setuju?" Lembut suara Sabrina meminta penguatan Alvira.
Alvira membalas dengan menggangguk mantap.
***
Sabrina & Dhani mulai saling tidak nyaman. Persis seperti nonton film laga, keduanya nampak tegang menonton salah satu adegan puncak. Bedcover yang sengaja dipindahkan dari dalam kamar ke ruang tamu, untuk sekedar menjadi tempat bagi mereka untuk saling bermanja-manja, Alvira sudah tidur pulas sejam lalu sembari menikmati movie night tak mampu menghadirkan kehangatan di antara mereka. Beberapa camilan kering dan softdrink rasa kola tidak tersentuh sama sekali.
Mata Dhani menatap ke layar TV Plasma yang terhubung dengan DVD player memutar film kesayangan mereka sewaktu masih pacaran If Only. Lebih tepatnya film itu kesukaan Sabrina. Namun hati laki-laki itu tidak merasa tenang, wajahnya gelisah. Kepala Sabrina menyusup di antara leher dan dagu suaminya. Rebah di dada lelaki yang sekarang ini sudah di rasa jarang menemuinya, entah kesibukan kerja, atau sibuk mengurus persiapan kelahiran anaknya dari rahim Maryam yang sudah usia 8 bulan. Gesture Sabrina terlihat resah, seperti resahnya seorang perempuan sebab lama berpisah dengan seorang suami.