Gerimis Paling Bening di Kairo ( a.k.a Kaligrafi untuk Sabrina )

RENDRA ABIMANYU
Chapter #16

Norwegia

12 Tahun Sebelumnya

Igo Garuda masih merasakan efek jetlagged sebenarnya. Sebelah tangannya yang bebas ia gunakan untuk menekan saklar, menyalakan lampu kamar hotel. Sementara tangan satunya memegangi Smartphone-nya untuk tetap dekat di daun telinganya. Suara ibunya di ujung sana menanyakan bagaimana kabar perjalanan udara-nya. Juga apakah dirinya nyaman dengan biro travel yang mengurus perjalanannya kali ini. Perjalanan pelarian-nya dari rasa frustasi. Iya, Igo ke Norwegia dalam keadaan frustasi.

Igo mendekati jendela kamar hotel. Membuka tirai. Menatap bayang samar dirinya yang terpantul di kaca jendela. Rambut ikal di potong pendek. Bahu bidang dan tubuh atletisnya di balut satu setel jas dan kemeja berwarna hijau muda, serasi dengan skinny tie hitam-pemberian Sabrina waktu hari ulang tahunnya setahun lalu.

Memalukan, hanya karena perempuan saja aku sampai begini? Apa tak ada perempuan lain igo! Ayo bangkitlah! Jangan biarkan dirimu terlena dalam duka tak berkesudahan. Hidup harus terus berjalan. Masih ada orang-orang yang membutuhkanmu, masih banyak yang harus kau lakukan untuk membahagiakan mereka!Igo memaki dirinya sendiri. Namun semakin dia coba melawan, semakin lekat kenangan Sabrina dalam kepalanya. Igo menarik nafas dalam lalu mengembuskannya pelan.

Sakit hati oleh Sabrina membawa langkahnya ke Norwegia. Sabrina, yang seminggu lagi melangsungkan pernikahan dengan Dhani Abimanyu. Mengingat itu semua hati Igo semakin terluka.Ia jatuhkan tubuhnya di tengah kasur yang empuk. Matanya menerawang ke langit - langit kamar. Hening.

Di telinganya terngiang percakapan terakhir dirinya dengan Sabrina di sebuah gerai makanan cepat saji, tempat mereka sempat bersitegang, lalu dirinya mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya kepada perempuan itu, yang menangis sesunggukan kala itu. Igo memilih mengalah dari Dhani Abimanyu, mantu pilihan orang tua dan kakeknya Sabrina.

Perjalanan di pesawat tidak terasa lama karena Igo menghabiskan waktu lowongnya dengan tidur dan menatap lama ke luar jendela. Hanya awan...dan sisanya kosong-seperti hidupnya saat ini.

Dia tidak mau terdengar seperti pecundang, tapi memang begitulah kenyataan yang sedang terjadi di dalam hidupnya. Sabrina Rinjani adalah warna hidupnya yang serba abu-abu. Dirinya yang kutu buku, tidak mudah bergaul, santri introvert, yang setiap waktunya di habiskan dengan kanfas dan membuat kaligrafi, sampai dirinya telah lulus kuliah di Ilmu designer grafis, mana mungkin dia ada waktu untuk cinta? Tapi Sabrina membuat semuanya mungkin. Terlepas dari status mereka yang terhalang restu orang tua Sabrina, awalnya perjalanan cinta mereka terasa sempurna meski harus backstreet. Sabrina yang super perhatian kepada dirinya, demikian sebaliknya dirinya yang selalu memanjakan gadis itu. Kini harus berpisah tanpa mungkin kembali bersama.

Begitu banyak romansa indah yang telah terlewati selama ini. Terutama romansa hujan kala itu. Semua membuat Igo semakin tidak bisa begitu saja melupakan sosok Sabrina, cinta pertamanya. Mengenang Sabrina dan semua hal tentang perjalanan rasa sewaktu masih bersama menjalani hari- hari di pesantren, alun - alun taman kota, semakin mendekatkan dirinya kepada luka cinta yang semakin menganga.

Igo menutup mukanya dengan bantal, Seakan ingin membuang segala kesedihan hatinya. Hening. Dengan ujung jempol kaki, dia mendorong lepas panthofel yang seharian itu dipakainya. Matanya terpejam. Bermil-mil jauhnya dia meninggalkan Sabrina dan Jogjakarta, tapi sosok Perempuan itu tetap lekat di kornea, membakar matanya dengan rasa rindu dan kemarahan karena ingat kalau Sabrina kini bukan miliknya. Koreksi, bahkan sejak awal Sabrina bukan miliknya, semenjak restu cinta itu tidak pernah ada. Dianya saja yang terlalu bodoh baru menyadarinya sekarang.

Lihat selengkapnya