Sebulan sebelumnya
Adakah yang lebih meyiksa ketimbang Rindu yang tak pernah tergenapi? Ternyata baginya rindu yang tak pernah tergenapi adalah kata lain dari perpisahan. Dan perpisahan tentu saja kata lain dari luka teramat dalam.
Lagu Ronan Keating "if tommorow never come" mengalun dari tape di sebuah kamar. Igo tercenung, mata elangnya menerawang langit - langit kamar. Rupa wajahnya serupa galeri patah hati. Muram, sedih, serupa mendung hitam membedaki langit. Terlampau sering Igo melihat ke layar hp - nya lalu meletakkan kembali tepat di sisi badannya. Sabrina meluapkan rasa ketiadaberdayaannya atas jalinan hati dengan lelaki idamannya itu melalui dunia 140 karakter.
“Tidakah kamu menyakiti diriku saat ini dengan menempatkanku demikian, Sabrina? Siapa yang jahat di sini? Jahatkah aku yang mencintaimu dengan sungguh, sepenuh hati? Atau rasa cemburu ini yang terlalu memperdayaku dan melumpuhkan rasa cintaku kepadamu?”
Entah mungkin karena Igi terlalu mencintai atau memang Sabrina telah berpindah ke lain hati. Terlebih ketika Sabrina berkata bahwa ia tegah dijodohkan dengan seorang pria bernama Dhani Abimanyu. Igo merasa banyak perubahan dari sikap Sabrina. Seperti ada sesuatu yang tengah disembunyikan kekasihnya itu. Dan setiap Igo bertanya, Sabrina selalu menjawab dengan kata yang tak pernah memuaskan keingintahuan Igo.
Padahal, bagi Igo Sabrina adalah segalanya. Matahari dan rembulan bahkan mencintai Sabrina sama wajibnya dengan menghirup oksigen untuk memertahankan kehidupan. Dan semua sirna, tatkala dia datang tanpa diduga. Seperti Rahwana yang menculik dewi sinta dari Sri Rama. Igo menarik nafas dalam.
Kata maaf saja tak cukup baginya. Hatinya sudah terlampau nyeri meskipun rasa cinta tetap menjadi yang terutama dalam hatinya.
“Wahai engkau bidadari, lihatlah aku terpaku dan lesu diantara hubungan yang rumit ini. Bukan hanya sekedar aku yang ingin menjadikanmu kekasih. Lihatlah diseberang sana, lihatlah! Ada pemuda lain yang tengah menunggumu pula. Namun, semoga saja pikiranku salah menafsirkan kehadirannya selalu disisimu, ketika aku tidak bisa selalu ada di sampingmu. Benteng siti nurbaya itu telah mampu menggerus pertahanan tali kasih sayang antara kita. Aku tahu kamu tidak kuasa menolak kehendak kakekmu, Sang Kyai, yang juga aku hormati dan patuhi segala titah petuahnya sebagai santrinya. Sementara jalinan hubungan rasa yang kita punya terjalin jalan tanpa restu dari orangtuamu. Ah..menyedihkan.”