Hari masih terlalu dini untuk diajak berlari. Tapi Igo sudah bangun. Selain ia memang terbiasa bangun pagi, Igo pun tak ingin menyia- nyiakan kesempatan untu lebih mengenal kota tempat tinggal barunya kini.
Ia melihat hp. Barangkalai saja Sabrina menghubunginya. Dan tentu saja tidak. Igo menarik nafas berat. Aku tak boleh mengharapkannya terus. Pikirnya sambil melembar kembali hp ke atas kasur.
Setelah salat subuh, Igo berlari pagi. Barangkali dengan menghirup udara pagi beban dalam hati bisa sedikit berkurang. Matanya memerhatikan sekitar. Pohon-pohon berjejer rapi ditepi jalan. Sangat beda dengan di indonesia. Yang berjajar ditepi jalan adalah pedagang kaki lima. Igo senyum sendiri mengingat itu.
Ia mendapat kesempatan libur 1 (satu) bulan di masjid. Cuti dari mengajar. Dimanfaatkannya benar-benar untuk mempersiapkan kuliahnya. Ke depan ia bisa menyambi ambil kuliah.
Mata elangnya sejenak mengamati. Dia merasa beruntung bisa menginjakan kaki di Nurwegia. Tak banyak memang anak muda yang bisa berkesempatan belajar sekaligus bekerja di luar negeri. Bangunan tinggi di sepanjang jalan dan deretan pepohonan di sepanjang sisi kiri kanan. Norwegia saat ini lagi musim semi. Di sela - sela pohon berderet bangku - bangku
Kurang lebih setengah jam Igo jogging. Denyut kehidupan kota Norwegia mulai nampak. Lalu lalang orang dengan langkah cepat menuju ke kantor. Lalu lintas mulai ramai.Igo sejenak berhenti di sebuah bangku taman yang masih sepi. Duduk dengan berselonjor kaki. Istirahat. Igo mengambil botol air mineral dalam saku celananya. Minum. Igo bangkit dan meneruskan jogging ke arah pulang ke apartemen.
Hari ini Igo itu tidak bermaksud ke mana-mana, hanya ingin menghabiskan waktu sepanjang hari di kamar dengan menonton TV kabel, menonton film-film dari koleksinya, juga membaca buku dan novel yang dia bawa dari Jogja.
Di sebuah tikungan jalan, tidak sengaja Igo berpapasan dengan seorang perempuan yang juga sedang jogging. Sekilas dari wajah perempuan itu terlihat dari Indonesia, seperti dirinya. Igo penasaran, lalu berbalik arah, sedikit berlari mengejar perempuan itu, setelah berhasil, Igo langsung mensejajari lari perempuan di sebelahnya. Jarang sekali ia bisa menemukan perempuan Indonesia sekira umurnya di sini.
"Hai, Aku Igo Garuda. Boleh kenalan. Aku dari Jogja. Kamu dari Indonesia kan?” Igo tak perduli dengan sikap SKSD- nya. Belum juga ada sahutan. Nafas sedikit ngos - ngosan yang terdengar dari perempuan di sebelahnya. Tapi perempuan itu masih terlihat semangat untuk jogging.
Wajah gadis itu mirip sekali dengan Sophia Muller di usia belia. Igo sejenak terpesona dengan kehadiran perempuan itu. Igo jadi memperhatikan dengan seksama fitur wajah gadis itu, wajah yang manis, natural, hidung sedikit mancung, bibir yang penuh. Igo bahkan sempat menghitung dua tahi lalat kecil di pipinya dengan sebuah senyuman bodoh yang tak kunjung memudar. Jelas saja, di menit ke sekian Igo menerima tatapan tidak senang dari perempuan yang menoleh ke arahnya. Igo segera merubah haluan tatapan matanya kearah jalan.
Di sebuah bangku taman perempuan itu berhenti. Igo ikut berhenti. Haus. Igo menawarkan sebotol kecil air mineral yang masih penuh. Entah mengapa tadi Igo tergerak membawa dua botol. Perempuan itu sibuk menyeka keringat di pelipis dan leher yang tertutup hijab dengan handuk kecil. Akhirnya pertahanan perempuan itu menyerah kalah. Tangan perempuan itu meraih botol mineral yang sejak tadi dibiarkan menggantung begitu saja di uluran tangan Igo.
Igo tersenyum. Pendekatannya sudah berhasil. Sebentar lagi perempuan ini pasti akan memperkenalkan dirinya. Batin Igo. Benar sekali, setelah tegukan terakhir melewati kerongkongan perempuan itu, terdengar lembut perempuan itu menyebutkan namanya.
"Aku Maryamdari Purwokerto, Jawa Tengah. Syukron untuk mineralnya. Maaf gara - gara aku persediaan air minummu habis. " Ucapan Maryam terdengar lembut dan sopan.
“Senang bisa bertemu sebangsa di negeri orang.”
Maryam menatap wajah Igo sekilas. Keren juga, pikirnya.
Igo senyum. Dan tanpa rencana obrolan pun mencair begitu saja. Mereka seperti sudah lama saling mengenal.
***
Igo baru selesai mandi sore itu ketika Ibunya menelepon.
“Igo…” Suara yang familiar itu segera menyapa pendengarannya.