Gerimis Paling Bening di Kairo ( a.k.a Kaligrafi untuk Sabrina )

RENDRA ABIMANYU
Chapter #19

Meet Parents

Siapa yang menduga Igo bakal ketemu sama Maryam di negeri orang. Dan pertemuan demi pertemuan semakin mendekatkan hati mereka. Igo bahkan sudah mulai jatuh cinta. Tapi ia masih sedikit trauma jika harus menjalin cinta. Maka, Igo tak mau pusing. Ia pun menyatakan keinginannya kepada Maryam.

“Menikah?!” Maryam seperti tak yakin mendengarnya.Sendok di tangan kanannya jatuh berdenting di piring. Wajah perempuan itu terangkat dan semua fokusnya tersedot sepasang mata milik Igo.

 Lelaki itu mengangguk dengan santai. Reaksi Maryam yang jelas-jelas menunjukkan kekagetan, sama sekali tidak berarti baginya.

“Me-ni-kah”, eja Igo pelan. Maryam masih menatap tegas lelaki di seberang mejanya. Membina hubungan baru yang sesuai dengan hukum dan agama. Menjadi suami dan istri”, Urainya.

Seakan Maryam sama sekali tidak mengerti apa itu menikah. Keseriusan ucapan lelaki itu, tiba-tiba membuat Maryam seakan baru saja melalui perjalanan udara yang panjang. Dia belum sepenuhnya mampu berpikir jernih. Jetlag. Selera makan malamnya tiba-tiba hilang.

“Bagaimana Maryam?” tanya Igo kembali.

Maryam menatap Igo. ‘Aku belum bisa memberi jawaban sekarang. Karena sebagai anak gadis aku punya orangtua yang harus aku mintai pendapatnya.”

“Baiklah. Akan aku tunggu kapanpun kau siap, Maryam.”

Kekakuan itu masih saja mengikuti mereka berdua, percakapan di meja makan tadi membuat Maryam memilih banyak diam di samping Igo. Laju taxi yang mereka tumpangi terus membawa mereka pulang. Awalnya Igo berniat mengajak Maryam ke Cinema, namun tidak jadi, akhirnya dinner saja.

“Maryam, kamu pasti tahu, ketika Tuhan menciptakan kita, dia memang menginginkan kita berpasangan. Kita penggenap satu sama lain.” Suara Igo memecah kebisuan.

“Iya, Igo aku tahu. Tapi, aku belum siap”, Maryam membatin. Igo melirik perempuan di sebelahnya yang masih diam, pelan Igo menyenggol bahu perempuan itu.

"Baiklah, akan aku pikirkan ajakan kamu, Igo " Maryam membenarkan posisi duduknya pada bangku jok. Mereka bertukar senyum. Igo menatap lembut mata pujaan hatinya saat ini. Maryam, magnet manis itu, kini tampak tenang dan tidak lagi ada tanda-tanda kebimbangan. Igo lega melihatnya.

Laju mobil taxi terus berjalan pelan. Igo berencana menghantarkan Maryam pulang ke flat-nya, setelah itu dia baru balik ke penginapannya sendiri.

***

Di ruang tamu, Maryam menyalakan televisi, tapi nggak berniat untuk menonton. Hanya supaya ada suara saja, perempuan itu asyik di depan laptop-nya sedang melanjutkan beberapa draft konsep pola design hijab terbarunya.

"Keluar yuk, cari makan. Lapar, nich." Suara Igo di layar Laptop-nya. Mereka sedang on line video call melalui webcam.

 Igo sambil tiduran, terdengar suara TV dengan volume sedang dari ruangan kamarnya, sedari tadi Igo setia menemaninya, sesekali saja kadang Igo mengoreksi hasil design hijab kekasihnya, ketika Maryam memperlihatkan hasil design hijabnya. Mata elangnya masih menatap ke layar laptop, seakan sedang mengawasi CCTV. Maryam lagi sibuk membuat design dan sedang di perlihatkan coretan tangannya ke Igo.

“Aku sudah pesan delivery order, sebentar lagi datang kok. Kamu kalau lapar, sana beli makan dulu.”

"Yang itu cocok untuk di musim dingin. " Igo menunjuk hijab dengan design bersayap. Dengan kerudung model jumper.

Kini mata Igo lurus ke layar televisi, mengambil duduk di sofa panjang, sedikit rebahan. Beberapa kali Igomerubah chanel, lalu berhenti di sebuah chanel yang menayangkan acara musik pagi.

Tiba-tiba terdengar bel pintu. Maryam setengah berlari membuka pintu. Seorang lelaki muda dengan seragam sebuah gerai makan cepat saji, berdiri depan pintu, tangannya menenteng se-plastik makanan pesanan Maryam.

Setelah menanda tangani tanda terima, dan membayar, Maryan kembali ke ruang tamu. “Pesanan sudah datang!. Makan dulu, yuk!. Maryam memperlihatkan paket makanan lunchbox ke arah Igo.

Lihat selengkapnya