Gerimis Paling Bening di Kairo ( a.k.a Kaligrafi untuk Sabrina )

RENDRA ABIMANYU
Chapter #20

Ketika Cinta Menikahi

Kehadiran anak solehah di dekat orang tua selalu membawa energi tersendiri. Perlahan namun pasti, ayah Maryam berangsur pulih meski Dokter menganjurkan Ayah Maryam tak boleh banyak pikiran dan bekerja berat.

Hari itu, Ayah Maryam sudah diizinkan pulang. Tentu saja Igo selalu menemani Maryam merawat dan menjaga ayahnya meskipun Igo harus bolak-balik ke hotel tempat dia menginap.

 Di teras belakang rumah, menghadap kebun kecil, Igo dan Bapaknya Maryam berbincang, ngobrol di bangku rotan panjang. Sementara di kebun kecil, Maryam dan Ibunya yang berbincang sambil menyemprot tanaman obat-obatan dan bunga hias. Sesekali Maryam memandang ke arah Bapaknya. Mereka bercakap-cakap seperti sahabat lama saja yang sekian lama tidak pernah bertemu. Mereka terlihat sangat akrab satu sama lain. Padahal Igo baru beberapa jam di rumah Maryam.

Di tangan Ibu Maryam, menggenggam botol semprotan berisi pupuk cair, terus menyemprotkan ke bunga-bunga, dan tanaman hias yang juga berfungsi untuk tanaman obat-obatan yang tumbuh di kebun. Maryam terus mengamati mereka dari tempatnya. Obrolan mereka semakin hangat dan akrab, terkadang terlihat mereka terlibat obrolan yang serius, kadang-kadang konyol, terkadang kening keduanya berkerut-kerut, namun ada kalanya mereka terlihat terpingkal-pingkal.Tidak bisa Maryam pungkiri, hatinya senang melihat mereka berdua tampak akrab.Saling cocok satu sama lain. Bapaknya Maryam juga terlihat suka dengan kedatangan Igo dirumah. Kata beliau, Igo adalah sosok pemuda kota yang tampan dan santun, berpendidikan pula. Orang jawa bilang Lelaki seperti dia dalam hal bibit, bobot, bebet adalah sempurna. 

Maryam dan Ibunya sekarang berjalan menuju tempat mereka mengobrol. Mereka langsung mengambil tempat duduk di antara sela-sela Igo dan Bapak.

“Nak Igo, kata Maryam, Nak Igo ini selain seorang Hafiz juga pandai membuat kaligrafi,ya?” Ibu Maryam melontarkan percakapan sambil menyeka keringat dipelipisnya. 

"Betul, Nak Igo ?" Ayahnya Maryam menimpali seraya ditaruhnya koran sore yang baru di bacanya di atas meja. Melepaskan kaca matanya, alat bantunya untuk memuaskan hobinya : membaca. Maklum usia Bapak Maryam sudah tidak muda, sudah hampir setengah abad.

"Alhamdulilah, Ibu, Bapak, Kebetulan karena hasil latihan di pondok dan untuk kaligrafi Igo belajar autodidak.” Igo menjawab dengan suara hati - hati dan tertata dengan santun.

“Oh ya, Maryam tadi bilang, kalian pernah mondok di pesantren yang sama di Solo - Krapyak.”

Igo mengangguk sambil melirik Maryam. Ia senang Maryam telah banyak bercerita tentang dirinya kepada orangtuanya.

“Alhamdulillah ...” Ibu Maryam senyum. “Tapi maaf, Nak. Beginilah rumah Maryam, sederhana. Maryam sejak mendapatkan beasiswa kuliah di Norwegia. Rumah ini semakin sepi. Apalagi, Saya selalu di tinggal Bapak ke sawah dari pagi sampai setengah hari. Pulang sebentar, makan siang, sholat, tidur siang sejenak, sesudah itu balik lagi ke kantor.Maksud Ibu, ke sawah.”Ibu Maryam tertawa kecil.

 Igo tersenyum mendengar candaan Ibu Maryam barusan.Sementara reaksi Bapak hanya diam mendengar curhatan Istrinya.

“Ibu, katanya tadi merebus ubi, mana kok dari tadi Bapak di anggurin.”

“Oh ya Pak , Ibu baru ingat, sebentar Ibu tinggal ke dapur dulu, Saya ambilkan Pak.”Ibu beranjak dari duduknya. Maryam ikut bangkit Ibu dan anak itu sudah berjalan beriring menuju dapur. Sebuah dapur yang sederhana namun bersih.

“Sekalian tolong Bapak di bikinkan teh Buk ya…”Suara Bapak sedikit keras dari tempat duduknya.

“Ya.”

“ Maryam, Ibu kok rasa-rasanya cocok dengan Igo. Piye Nduk’ nek awakmu ambi Igo.Tak kirogo juga mau sama kamu.” ucap Ibu Maryam sembari mengambil beberapa potong ubi di kuali menaruhnya di piring.

“Ach, Ibu ini, pelan-pelan, nanti Igo dengar, ‘kan Maryam malu kalau Ia dengar.”Maryam samar tersenyum sembari sibuk membuat teh. Ia senang Ibunya menyukai Igo.

“Eee…lah, kok malah mesam mesem dewe koyo bocah gendeng, bocah iki.” Ibunya ternyata melihat senyum di wajah anak perempuanya itu.

Ibu Maryam kembali menghampiri suaminya dan Igo yang sedang mengobrol di teras belakang. Kini Ibu Maryam datang dengan membawa sepiring ubi rebus sedang maryam mebawa dua gelas air teh panas.

“Nak Igo pasti ‘ntar ketagihan dengan teh buatan saya.Teh special dari racikan Ibu sendiri. Pakai 3 jenis rempah dan empat macam bunga.”

“Hemm, harum banget, ya buk.” Igo mencium kepulan asap dari teh yang baru di buat, yang berada di atas nampan yang telah terhidangkan oleh empunya.

"Monggo, Nak Igo di icip ubi rebusnya, polo pendem ala kadarnya khas desa " Ayah Maryam mempersilahkan tamunya sembari terlihat mulai makan sepotong ubi.

" Monggo, monggo, Nak Igo " Ibu Maryam menimpali.

" Terima kasih, Pak,." Igo meraih sepotong ubi rebus di piring. Memakannya. 

“Wah-wah bener-bener nikmat, sore-sore gini suguhan ubi rebus dan segelas teh.”Bapakku sumringah menikmati hidangan.

Istrinya tersenyum.

Igo meraih segelas teh yang dihidangkan tepat di depannya.“Hem, wanginya teh ini.” Igo mendekatkan hidungnya pada kepulan teh yang masih panas. Di tiupkan udara pada bibir gelas, berharap cepat dingin.

“Auw…panas.”Tanpa sengaja bibirnya menyentuh bibir gelas, refleks mengaduh.

Maryam tersenyum melihatnya

Lihat selengkapnya