Akhirnya hari itu pun tiba. Sejak senja sudah tak cantik lagi, Maryam justru mempecantik diri. Meskipun sudah seminggu mereka menikah, tapi inilah malam pertama mereka. Jika malam-malam sebelumnya Maryam dan Igo hanya menghabiskan malam dengan bersendau gurau, maka malam ini Maryam berjanji akan memberikan pelayanan spesial bagi suaminya.
Maryam adalah gadis cerdas juga senang mencari ilmu. Hingga ilmu melayani suami pun ia pelajari. Dan memang Islam adalah agama universial. Islam sudah mengatur urusan kehidupan manusia dari ulai sumur dapur dan kasur. Slaah satu kitab klasik yang membahas tentang hubungan intim antara suami istri adalah Fathul Ijar.
Semesta seperti merestui percintaan mereka. Sejak jam 8 malam, gerimis halus meliuk-liuk begitu erotis diembus angin. Maryam dan Igo sudah berada di kamar. Anehnya, Maryam justru menunduk malu. Hatinya deg-deg-an. Jika kemarin di pesantren dia hanya membaca teori saja tentang hubungan badan, maka kali ini ia harus mengamalkan ilmu yang telah dikajinya. Tapi tetap saja ia merasa malu. Karena ini adalah yang pertama baginya.
Untungnya Igo bukan tipe pria yang fasif. Melihat Maryam menunduk ia paham apa yang tengah dipikirkan istrinya. Igo duduk di samping Maryam. Tangannya menggenggam jemari maryam.
“Kenapa menunduk, sayang?”
‘Aku malu, Mas.” Lirih Maryam sambil mengangkat kepala. Menatap wajah Igo di depannya.
Igi senyum. Dan malam ini, oleh Maryam senyum itu terlihat sangat manis.
Igo mengecup kening Maryam yang hanya terpejam menerimanya.
“Aku sayang kamu, istriku.” Lirih Igo.
Maryam tak menjawab dengan kata. Melainkan dengan pelukan yang sangat erat. Pelukan seorang kekasih pada yang dikasihinya.
Diluar angin mengendap-ngendap. Mengingtip sepasang manusia yang sedang memadu kasih. Pelukan dan kecupan dilakukan begitu lembut seolah tak ingin cepat berlalu. Padahal mereka tahu. Malam pertama bagi sepasang pengatin adalah malam yang begitu cepat. Tapi mereka pun tak ingin cepat berlalu. Biarlah gerimis mati menahan gigil, biarlah kunang-kunang mati oleh cahayanya sendiri, yang penting bagi Igi dan Maryam kini adalah mereka bahagia.
Namun pada akhirnya, mereka tak mampu lagi mengontrol gerakan. Igo terus mengayuh dengan lututnya yang kukuh sedang Maryam mengimbanginya dengan perahu yang tangguh. Hingga saat-saat puncak mereka capai, seperti ada dorongan ombak dasyat dalam tubuh mereka yang memaksa keluar, tak mampu ditahan hingga akhirnya mereka terkulai bermandikan keringat bahagia.
***