Gerimis Paling Bening di Kairo ( a.k.a Kaligrafi untuk Sabrina )

RENDRA ABIMANYU
Chapter #23

Rahasia Igo Garuda

Tahukah kau Maryam. Mesjid ini awalnya adalah sebuah tempat pembuangan sampah yang telah berusia sekitar 500 tahun. Dibuat khusus untuk menghijaukan wajah Kota Kairo.Begitu luar biasa pemerintah pelopor pada masa itu berhasil membuat tempat ini menjadi sangat indah."Ufairah mencoba mengalihkan kesenduan yang tampak di wajah Maryam.

 Sejak tadi Ufairah ingin tahu apa yang dirasakan Maryam. Tapi Maryam hanya mengajaknya duduk menatap awan. Merasakan semilir angin yang melintas dari sela jejer pepohonan disepanjang ruas lingkar air mancur.

Duduk diposisi sudut 12 pas menghadap Benteng Sholahudin Al Ayubi di ketinggian, membuat Ufairah dapat menikmati pemandangan eksotis Mesir dengan sempurna. Seharusnya Maryam juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan Ufairah. Tapi ternyata tidak. Maryam masih diam, bak gaya duduk wanita paruh baya dalam lukisan "Whistler's Mother" dari lukisan Mc Neil Whistler. 

Ufairah tak ingin berlama melihat sahabatnya demikian. Ufairah selalu suka tempat ini. Bahwa siapapun yang berada di Taman itu takkan terasa bahwa ianya sedang berada di Mesir, kawasan Padang Pasir. 

Sebagai kawasan hijau yang hingga saat ini satu-satunya di Mesir, tepatnya disekitar kawasan Darrasah atau komplek universitas Al-Azhar Kairo, Taman Al Azhar menjadi pilihan banyak wisatawan atau warga negaranya untuk melepas kerinduan dan menumbuhkan bonding antara mereka. 

Tapi mengapa hingga detik ini. Hampir 30 menit berlalu. Tiada perubahan sikap Maryam. Masalah apa yang begitu besar dipikirkannya. Mengapa tak mampu ia menikmati keindahan alam sekitar taman ini. Ufairah semakin gerah. 

Ufairah mengeluarkan 2 bungkus Qasab dingin dan satu bungkusan pengganan lainnya dari dalam tas jinjing yang dari tadi dipegangnya. Qasab, jika di Indonesia  semacam minuman sari tebu. Mesir merupakan negara penghasil tebu terbesar di dunia. Data sampai April Tahun 2017 setidaknya 2,4 juta ton tebu dihasilkan negara tersebut. Maka Qasab menjadi favorit masyarakatnya. Minuman murah dan nikmat yang banyak disajikan sepanjang jalanan kota. 

Dengan gerak tangan lemah dan arah pandang yang tak berubah, Maryam menerima bungkusan Qasab dari Ufairah. Apa yang tadi dibicarakan Ufairah tak ingin digubrisnya. Hatinya lelah. Entah bagaimana mengurai rasa lelah tersebut.

"Kami akan segera kembali ke Indonesia, Ufairah atau bisa jadi juga hanya aku." Seru Maryam lemah.

Ufairah terkesiap.“Maksudmu? Bagaimana dengan Igo? Kalian baik-baik saja kan? 

Bagaimana dengan segala mimpimu akan membangun rumah makan khas Indonesia di sini. Bukankah kau sudah cukup nyaman Maryam? Kau tidak lagi kesulitan keuangan kan?"Ufairah mencecar Maryam bertubi.

Maryam panjang menghela nafas. Qasab ditangannya yang seharusnya manis, menjadi terasa sangat tawar. Dia bingung menjelaskan darimana. 

"Ufairah. Sudah bertahun aku hidup bersama Igo. Keadaan begini saja. Tak yang spesial ku rasakan. Semakin sulit. Kaligrafi dan dakwah tak seutuhnya dapat mencukupi kami juga."

"Itu bukan alasan Maryam. Kau masih bisa bekerja, bukan? Penghasilanmu sebagai manajer di restaurant ternama itu bisa menutupi. Kau bohong Maryam. Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak. Itu tidak mungkin."

"Kau tak seharusnya berkata kekurangan, Maryam. Kau bahkan sesekali pernah bercerita mengirimkan uang ke keluargamu di Indonesia." 

"Maryam, bicaralah. Kau bohong Maryam" Wajah Ufairah penuh selidik. Suaranya lantang. Untung saja daerah itu sangat menyudut dan tak banyak orang lalu lalang disekitar. Ufairah berusaha mengguncang bahu sahabatnya. Malah titik airmata yang turun dilihatnya. Akhirnya Maryam menjatuhkan dirinya pada peluk Ufairah.

"Pernahkah kau bermimpi, bisa terbang kemanapun sesuai inginmu Ufairah?"

"Ya."

"Kau mampu untuk itu." 

"Tapi aku lelah."

"Pernahkah kau merasakan kerinduan akan miniatur kita, Ufairah. Kita bebas memeluknya. Mendandani atau menata berbagai pola makan terhadapnya." 

"Kau bisa mendapatkannya bersama Igo."

"Kami sudah mencoba bertahun. Belum ada hasil."

"Ah, sudahlah Ufairah, tak ada yang harus dipertahankan bersama Igo."

"Kalian bisa berobat jika ada masalah. Apa yang mustahil kalau kalian mau?" 

"Ah, itu mustahil." lirih dan air mata Maryam semakin deras.

Ufairah bingung. Dia tahu pembicaraan ini menjadi sangat serius. Maryam sedang hanya butuh didengar.

"Aku akan segera kembali ke Indonesia. Aku ingin kembali ke keluargaku. Tanpa Igo. Igo hanya akan menjadi masa lalu." Pelan-pelan, dalam isak dan sekat Maryam berkata. "Kami bertengkar hebat kemarin. Kami telah memutuskan semuanya. Menjadi sendiri layaknya pribadi yang tak pernah mengenal, menghapus segala kesepakatan dan berbagai hal yang pernah ada."

Lihat selengkapnya