Gerimis Paling Bening di Kairo ( a.k.a Kaligrafi untuk Sabrina )

RENDRA ABIMANYU
Chapter #24

Epilog

Di kamarnya, ketika igo masih terlelap dalam tidur, terlihat Maryam duduk menghadap bersimpuh di bentang sajadah panjang gambar Mekkah. Pertengkaran dirinya dengan Igo tadi siang begitu membuatnya bersedih dan terluka dalam. Dengan berurai air mata dan terus menangis, Ia terus bermunajat kepada Sang Pencipta. Maryam berdoa seakan ia kini berhadapan dengan Tuhan dan berbincang empat mata dengan Sang Khalik.

Di saat dirundung kesedihan, kegalauan, selain sholat tahajud di sepertiga malam, kebiasaan Maryam adalah menulis. Menuliskan kegundahanya di laptop adalah rumah bagi resah gelisah hatinya. Dengan menulis, Maryam merasa mendapat teman curhat yang pas. Menulis adalah curhat empat mata baginya. Terlihat Maryam mengakhiri doa malam itu. Melepas mukena. Merapikan kembali ke tempatnya. Lalu dengan pelan - pelan merebahkan kembali tubuhnya di samping suaminya. Maryam membelakangi suaminya. Terdengar isakan yang terhisap bantal, Maryam menangis kembali. 

Igo terjaga, mendengar isakan tangis yang terhisap bantal dari perempuan yang membelakangi diri nya tepat di sampingnya. Igo merasa iba, lelaki itu berniat merengkuh tubuh Maryam, memeluknya memberi kekuatan, namun niat itu di tepis dengan lembut oleh Maryam. Gesture tubuh perempuan itu menolak. Igo paham. Mengurungkan niatnya lalu memilih bangkit dan menuju kamar mandi untuk ambil wudu. Sholat Tahajud. Sementara linangan air mata Maryam terus membasahi pipi, kali ini tangisan itu nyaris tidak terdengar, hanya buliran air mata yang semakin deras.

***

Lihat selengkapnya