GHOST FAMILY

Herman Siem
Chapter #3

Kejutan Tamu Tengah Malam

View rural terlihat indah dari kejauhan tengah malam, cahaya kecil lampu menjadi tanda, bila ada kehidupan dalam setiap rumah yang kini sedang terlelap tidur berselimut hangat menepis dingin angin malam.

Hamparan perbukitan terlihat gelap ketika malam datang, pasti sungguh indah ketika terlihat saat siang hari hamparan perbukitan sungguh indah memanjakan dua mata.

Malam masih terasa panjang, gelapnya masih kerasan bersemayam berteman dengan kesunyian berselimut dengan kabut pekat malam membawa dingin.

Malam itu pastinya tidak banyak roda-roda kendaraan lalu-lalang atau sekedar melindasi aspal-aspal hitam telah lelap tidurnya berselimut basah kabut dingin.

Terlihat sepi sepanjang jalan, terasa sentuhan makin dingin terpaan angin malam merasuki relung tubuh. Sepanjang kiri-kanan tepian jalan hanya berdiri jejeran pepohonan pinus sudah lelap tertidur berselimut hangat rindangnya dedaunan lebat.

Tidak ada rumah sepanjang jalan, hanya terlihat hamparan semak belukar berlatar belakang perbukitan terhantui gelap yang mencekam.

Dari kejauhan terlihat cahaya samar redup kecil makin maju mendekati, dengan sepasang roda kecilnya merasa ragu ketakutan mengajak berjalan kuda besi berbahan bakar bensin.

Cahaya samar redup kecil itu dari motor ojol, motor tua yang masih saja diperuntukan menyambung hidup seseorang.

Walau tergurat takut cemas dan gelisah tukang ojol itu, tetap menerima orderan ditengah malam mengantarkan seorang gadis. Gadis itu sejak tadi duduk membonceng dibelakang. Tidak persis terlihat wajah gadis itu, sejak tadi wajahnya hanya membuang ketepian jalan, walau sejak tadi tukang ojol merasa tercekam ketakutan dengan merasakan buluk kuduknya merinding sepanjang perjalanan.

"Neng, benar ini jalan ini arah kerumahnya Eneng?" tanya tukang ojol ragu dan makin merinding.

Gadis itu hanya diam, wajah terlihat pucat membuang ketepian kiri jalan.

"Saya baru kali ini Neng, dapat orderan ngantar sewa jauh bangat rumahnya," nadanya seperti menggerutu.

Tapi tukang ojol itu terpaksa harus mengantarkan gadis itu pulang. Motor terus berjalan susuri jalan beraspal makin terasa dingin basah semilirnya.

Motor berhenti didepan semak belukar gelap, samar terlihat ada bangunan tua yang sudah rapuh dan angker dibalik semak belukar berselimut kabu pekat.

"Emang itu benar rumahnya Neng?" tanya penasaran tukang ojol makin merinding.

Sekujur tubuhnya mulai gemetar ketakutan, tidak menjawab gadis itu hanya berjalan setelah turun dari motor.

Sekali jemari kanannya menggaruk kepalanya, tukang ojol makin kebingungan dan tentu makin ketakutan.

"Neng?" masih penasaran dipanggil lagi sama tukang ojol itu.

Gadis itu berhenti berjalan, padahal berdirinya diantara semak belukar hanya terlihat seragam putih saja yang dipakainya, sedangkan rok abu-abunya samar terlihat. Wajahnya hanya terdiam pucat kertas, tidak sama sekali bergeming dengan panggilan tukang ojol itu.

"Benaran Neng disini rumahnya?" tanya lagi makin penasaran tukang ojol.

Tukang ojol sudah berdiri dibelakang gadis itu hanya mengempit tas ransel dengan dua tangannya depan dada.

"Emang kenapa Bang, kalau benaran rumah saya disini?" sahut gadis itu menoleh kebelakang.

"Uahhhh ... Akhhhhh ... Se-Se-Setan ..."

Benaran kali ini terkejut tukang ojol ketika melihat wajah gadis itu seram sekali, dua matanya melotot keluar menatap tukang ojol lari tunggang-langgang jatuh bangun.

"Se-Se-Setan ..." cepat tukang ojol naik motor.

Lihat selengkapnya