Stik golf merk kevler dan bangkai burung hantu sudah terbaring disamping Axel masih terlelap tidurnya, padahal sinar matahari sudah menyelinap masuk diam-diam menyusupi setiap celah kaca jendela. Apalagi jelas sekali wajah Axel tersengat sinar matahari dari tirai jendela yang tembus pandang itu.
Bulir-bulir air sisa pembiasan kabut malam masih tidak beranjak pergi dari permukaan kaca jendela, terlihat dari depan masih bertahan berteman dengan dingin.
Pucuk-pucuk muda dedaunan mulai mekar tumbuh menyelinap masuk, diantara lembaran dedaunan yang sebentar lagi akan tergerus usia dan terlepas dari ranting dahan setiap pepohonan.
Rumah bergaya kolonial berlanda masih terlihat kokoh bangunannya, corak warna dominan krem terang masih menyelimuti semua dindingnya. Hampir semua ornament kaca melengkapi setiap kusen pintu dan jendela. Sungguh aksennya masih terlihat natural, dengan dinding tembok teras depan beranda rumah setengah badannya berlaspis ornamet lempengan batu alam.
Kursi dan mejanya juga masih terawat bersih terbuat dari kayu jati tua, terbiarkan sepi kosong didepan teras beranda rumah dengan berlantai granit berwarna terang. Diujung sudut teras, masih menggigil kedinginan motor vespa keluaran terbaru warna grey, motor vespa dibiarkan saja sepanjang tadi malam.
Sisa-sisa kabut masih menggerayangi sekitar rumah bercampur kristal-kristal tetesan kabut malam. Terlihat sunyi sepi, kiri-kanan tidak terlihat rumah, hanya ada rumah beraksen kolonial belanda saja satu-satunya.
Rumah kolonial belanda itu, tempat melepas lelah dan beristirahat Axel sepanjang hari, setelah ia lelah seharian sekolah dan beraktivitas. Kalau ditanya dimana kedua orang tua Axel, pasti semua tahu. Bila kini, keberadaan orang tua sudah tiada, tapi terdengar sumbar bila ayahnya tidak tahu dimana rimbanya, namun keberadaan ibunya sudah terbaring selamanya berselimutkan gundukan tanah dinging.
"Terrr ... Terrrr ..." alarm berbunyi dari cerobong kecil speaker ponsel, layarnya menyalah terang kini kembali redup.
Masih lelap berselimut hangat, percuma saja suara alarm berbunyi tidak akan bisa bangunkan Axel. Wajah tampannya tersenyum, mungkin sedang terajak dalam mimpi indah dengan gadis cantik dialam tidur sana.
"Zzzzzzz ... Zzzzzzz ..." kerumunan lalat menyerbu bangkai burung hantu.
Masih tidak terasa teranggu, masih tersenyum dan masih belum sweet ending mimpi indah dalam tidurnya Axel.
"Terrr ... Terrrr ..." mengulang lagi suara alarm terdengar.
"Axel ... Xel ..." suara panggilan dari luar sepertinya mengajak buru-buru.
Suara itu datang dari mulutnya Sapri, cowok setengah tampan berambisi ingin menjadi perhatian setiap murid perempuan di sekolah. Badannya saja segede gajah, andai kedua kakinya berjalan pasti bumi akan bergetar seraya teriak ketakutan akan terjadi gempa bumi.
"Pasti lupa lagi si Axel, kalau sekarang hari senen," kata Sapri sambil merapihkan rambut kribonya.
Wajahnya tidak pernah menyingkir dari kaca spion bulat motor honda C70 rakitan 1981 warna hijau botol. Andai dua roda bannya bisa bicara, mungkin akan berteriak kencang saking menahan berat tubuhnya Sapri.
Turunlah Sapri dari motor antiknya, terasa lega tidak sesak lagi setiap rangkaian kabel dan jok motor terasa lega bernapas apa lagi kedua roda bannya.
"Axel ... Bangun loe ... Udah siang ..." teriakan Sapri makin terdengar kencang.
"Huhh! Pasti Axel pikun lagi!" gerutu Sapri mendorong pintu.
Langkahnya masuk kedalam, hidungnya yang gede seperti bangkong mengendus bau tidak sedap.
"Bau apaan nih?" guman bingung Sapri berjalan.
"Xel! Axel ..."
"Tok ..."