Mobil volkswagen combi minibus, rakitan tahun 1964 warna kuning berjalan mulus menyusuri jalan menanjak perbukitan moko.
Tersenyum seumringah setiap pandangan mata menatap dari atas perbukitan jalan melingkar menanjak tajam, terhampar luas view rural masih terbalut serpihan kabut putih.
Keempat roda tidak terasa berat ketika jantung mesin mobil terus memacu, dengan kecepatan tinggi menajak jalannya. Hana tersenyum perhatikan luar dan tepian kiri-kanan jalan, terhampar luas pepohonan pinus tinggi mencakar langit sendu.
Untung saja perut buncitnya Sapri tidak menghalangi lingkaran setir mobil, walau sekali-kali perutnya yang besar itu menyolek lingkaran setir kemudi mobil.
Sekali-kali tapi berharap pasti, wajah berhidung besar itu dengan beratap rambut kribonya berhasil mencuri menatap sebentar wajah cantik Hana terduduk disampingnya.
"Xel! Axel?!" sekali dipanggil Sapri tidak dengar hingga dua kali nadanya kencang.
"Iya! Gua dengar Rip. Gua ngak budek!" sahut Axel duduk dijok barisan belakang.
Sejak tadi ia hanya duduk bengong saja, tidak tahu apa yang sedang dipikirannya. Padahal tadi siang Dokter Ghina sudah wanti-wanti mengingatkan ia agar tidak terlalu banyak pikiran berat.
"Xel, benaran ini jalannya kerumah Inara?" tanya ragu Hana menengok kebelakang.
"Pasti jawaban loe lupa," malahan dijawab Sapri masik kemudikan setir mobil.
Sejak tadi sepanjang perjalanan memang sepi tidak ada satupun rumah warga terlihat. Hanya terlihat sepanjang jalan pepohonan pinus yang rindang masih menyisahkan basah pada setiap dahan ranting dan relung daunnya.
"Gua baru sekali-kali nganterin pulang Inara waktu itu. Itu juga udah malam," ragu jawabnya Axel melihat sekitar jalan.
Mobil makin berjalan menanjak keatas, makin terlihat kecil posisi mobil bila dari atas perbukitan hanya warna kuning merayap pelan berjalan.
Jalan aspal masih terasa basah, sudah tidak lagi ada sinar matahari karena terhalangi rerimbunan pepohonan pinus. Sedangkan mobil sudah membawanya makin keatas perbukitan, serpihan kabut makin terlihat menghalangi pandangan Sarip.
"Indah juga ya pemadangan disini," guman Axel.
Wajahnya tersenyum seraya sesaat otaknya ingin mencoba mengubur lupa.
Tersenyum Sarip melihat sahabatnya dari kaca spion tengah bisa sedikit tersemyum. Mungkin dengan mereka bertiga akan merumah Inara, yang kata sedang sakit. Membuat otaknya Axel bisa sedikit di restart, agar otaknya sedikit mengubur sakit lupa ingatannya walau hanya sesaat saja.
Samar terlihat didepan mobil terhalang serpihan kabut pekat, bikin penglihatan Sarip tidak jelas. Tapi Hana jelas melihat ada anak kecil tergesa-gesa menyebrang jalan.
"Rip, Sarip awas didepan!!!"
Teriak Hana, karena jelas melihat ada seorang anak kecil menyebrang jalan diluar mobil.
"Brugg!"
"Rip, gila loe! Yang benar dong nyetir mobilnya!" menggerutu kesal Axel menahan sakit dagunya terbentur headrest jok belakang duduknya Sarip.
Mobil sudah berhenti berhadapan dengan semak belukar, untung saja bemper depan mobil tidak terlalu ringsek.
"Loe bikin gua kaget aja Han!"