"Masih jauh?" tanya Hana masih ketakutan.
Wajah Ben terlihat pucat seram, jemari-jemari mulai menghitam dan mengeluarkan kuku-kuku tajam. Ia hanya berjalan duluan didepan tidak menjawab pertanyaan Hana. Menahan senyuman Sarip, sejak tadi jemari Hana hanya memeluk pergelangan kanannya sepanjang jalan.
Semua terhenti mendadak, sontak ketiga ikut berhenti dan terkejut.
Hamparan gelap malam berselimut kabut mencekam, tidak lagi terlihat sedikitpun sinar matahari yang kini sudah tergantikan dengan sinra cahaya rembulan malam. Tapi itupun indung sempurna rembulan terlalu sulit untuk menyinari semesta yang gelap, karena sinar terangnya terhalang serpihan awan-awan kelabu.
Axel, Sarip dan Hana saling melirik, tentu wajah ketiganya makin tegang dan ketakutan.
Mungkin saja anak kecil itu hanya membohongi mereka, karena sejak tadi ketiganya mengikuti langkah anak kecil berjalan hanya berputar-putar saja tapi masih belum kelihatan dimana rumah Inara.
Apalagi kini anak kecil itu hanya berdiri membelakangi ketiganya. Dalam hatinya ketiganya makin bertanya-tanya, apakah benar anak kecil itu akan mengantarkan kerumah Inara. Dan ketiganya tentu tidak bisa pulang, karena hari sudah terlanjur malam.
"Dik, benar ini jalan kerumah ini Inara?" tanya penasaran Axel.
Wajah Ben makin seram pucat terlihat disinari cahaya rembulan malam, jemarinya menghitam berkukut panjang menyilang depan dadanya.
Andai ketiganya tahu bila anak kecil setan, pasti ketiganya akan lari terbirit-birit ketakutan. Tapi tidak mungkin mereka akan pulang, mereka sepertinya sudah terjebak didalam hutan pinus yang gelap dan mencekam.
"Panggil saja saya Ben," Ben berbalik sambil menjawab.
Sontak terkejut ketiganya melihat wajah Ben makin terlihat seram.
"Rip, Sarip. Muka anak itu seram bangat," kata Hana ketakutan.
Tapi jemari-jemari Ben tidak terlihat menghitam apalagi berkuku panjang lagi.
Maunya Sarip mungki selamanya Hana ketakutan selamanya. Lihat saja dagu Hana sudah mendarat dibahu kanannya, karena saking ketakutan.
"Benaran Kak, ini jalan kerumah Inara. Kakak-kakak jangan takut begitu dong. Saya benaran adiknya Inara," tandas Ben tersenyum yakinkan ketiganya.
"Haaauuuum ... Errrrgggg ..." suara menggeram dari balik kegelapan.
"Ben ... Ben ..." teriak panggil Axel.
Ben cepat lari duluan dikejar ketiganya sempat mendengar juga suara geraman itu.
"Haaauuuum ... Errrrgggg ..."
"Suara apa itu?" wajah Hana sudah pucat ketakutan tapi masih sempat bertanya.
Axel dan Sarip hanya berlari ikuti langkah Ben didepan, keempatnya terus berlari membelah semak belukar kian terasa basah.
"Ben! Ben tunggu ..." panggil Axel.
Semua berlari susuri jalan tanah-tanah basah bermandikan ribuan daun kering sudah menyatu dengan tanah. Sinar rembulan malam tidak terlalu terang sinarnya, sudahterhalang rindangnya dedaunan pohon pinus.
"Haaauuuum ... Errrrgggg ..."
"Uahhhh ... Akhhhhhh ..."
Tidak sengaja Hana menoleh kebelakang sontak berteriak.
Jelas Abaddon mengejar mengambang terbang pendek dibelakang.