"Ini Elsa dan ini Chris," dikenalkannya dua adik Inara.
Ben hanya terduduk sambil melepas dahaga, setelah itu gelas kosong diletakan pada meja. Rasa haus sudah sirna setelah habis dikejar-kejar Abaddon, dengan segelas air putih.
Sedangkan Elsa dan Chirs hanya berdiam acuh saja saat dikenalkan oleh kakaknya pada teman sekolahnya itu.
Sarip merasakan dingin sekali telapak tangan dua adiknya Inara, sampai-sampai ia tidak mau berlama-lama bersalamanan.
"Telapak tangan mereka dingin bangat," bibir tebal Sarip membisiki kuping kiri Hana.
"Husst!" Axel menyenggol pantat Sarip sontak terdiam menahan senyuman.
"Kak! Nanti kami tidur dimana?! Kalau teman Kakak menginap disini?!" ketus sekali kata Elsa.
"Kalian tetap tidur dikamar saja. Kami bertiga, bisa tidur disini ruangan tamu saja," sahut Axel melempar senyuman pada Inara.
"Ben, emang benar kalau kentut kamu bisa mengusir?" __ "Abaddon,"
Langsung diperjelas Inara pertanyaan Axel yang sempat lupa.
"Abaddon itu jahat sekali," tandas Chris.
"Siapa Abaddon sebenarnya?" balik tanya Sarip.
Inara perhatikan ketiga adiknya duduk dalam satu sopa yang sama, wajahnya terlihat pucat seram. Inara kemudian menarik kursi dan duduk disamping Axel makin salah tingkah. Sedangkan Sarip dan Hana duduk diatas sopa samping, dua kaki mereka terlihat gemetar tapi bukan karena gigitan nyamuk.
"Han, loe perhatiin deh. Wajah Inara dan ketiga adiknya, kenapa pucat seram gitu?" guman sekali Sarip.
"Benar Rip. Dari tadi gua juga mau ngomong sama loe. Anak kecil yang tadi gua lihat depan mobil, wajahnya mirip kayak wajahnya Ben," sahut Hana dekatin bibirnya kekuping kiri Sarip.
Hana dan Sarip masih saja kasak-kusuk sempat dipelototi Axel, sontak keduanya diam tidak enak hati saat Inara ikut perhatikan mereka berdua jadi salah tingkah.
"Sejak kami tinggal disini, Abaddon selalu masih saja mengejar kami berempat," kata Ben tidak jelas.
"Maksudnya kamu, Ben?" balik tanya Axel.
"Setelah Ayah dan Ibu tiada, kami berempat terpaksa tinggal disini. Jauh dari keramaian kota, mungkin aku sering sakit-sakitan karena jarak sekolah dan rumah yang sekarang aku tempati terlalu jauh jaraknya," sedikit diperjelas Inara.
"Lantas kenapa Abaddon itu sampai mengejar kalian sampai sini?" balik tanya Hana padahal hatinya ketakutan.
"Panjang ceritanya," __ "Kak, aku tidak mau lagi mendengar cerita masa lalu. Pasti aku, Elsa dan Chris bakalan sedih,"
Baru saja Inara akan bercerita, tapi sudah dipotong Ben tidak mau kakaknya bercerita, kenapa mereka bisa tinggal ditempat yang jauh sekali dari keramaian.
Sepertinya dari keempat wajah pucat itu tersurat sesutau, tapi tidak mungkin juga Sarip, Hana dan Axel bertanya lebih detail dan jelas lagi pada Inara, sebagai kakak dari ketiga adiknya.
"Pasti Kakak-kakak lapar belum makan?" sambil beranjak bangun Chris melontarkan pertanyaan.
"Tahu aja, kita-kita dari siang belum makan," jawab Sarip malu-malu.
"Ya sudah, aku sama Kak Inara bantu hangatkan sayur sop didapur," kata Elsa beranjak bangun.