"Han! Hana ..."
"Sarip ... Sarip ... Tolongin gua ..."
Cemas dan ketar-ketir serta detakan jantung makin kencang mengirim sinyal pada setiap guratan wajahnya kian terlihat ketakutan.
"Haaauuuumm ... Errrrgggg ..." panjang sekali suara mengerang.
Kedua kaki Hana tertarik diseret dua tangan Abaddon yang hitam legam berkuku panjang.
"Akh!"
Sekali cakaran kuku panjang Abaddon menyisahkan tanda pada kaki kanan Hana.
"Errrrgggg ..." suara mengerang kecil tapi mencekam.
Bikin Elsa, Chris dan Ben mundur ketakutan.
"Hana!" tatapan seram wajah Abaddon menatap Axel mundur ketakutan.
"Lepasin Hana!" pinta Inara mendekati.
Dua jemari hitam berkuku tajam Abaddon tidak lantas melepaskan pergelangan dua kaki Hana makin tercekam ketakutan.
"Pasti Kakak sudah membuka jendela itu!" tuding Elsa kesal pada Sarip.
"Elsa sudah," diselah Inara.
Elsa terdiam tidak jadi marah lagi, karena jendela itu sudah dibuka bisa leluasa Abaddon masuk kedalam.
"Lagian Kakak juga si! Sudah buka jendela itu. Aku malas kencingi lagi jendela itu!" ngambek Ben.
"Ben, sudah!" makin kesal Inara pada adik bungsunya itu.
"Lepasin Hana. Dia bukan buruan kamu! Kami berempat yang jadi buruan kamu! Tapi kami masih belum bisa menemukan, dimana pelaku pembunuh itu!" nadanya memelas tapi makin marah.
Penjelasan Hana makin bikin bingung Hana, Sarip dan Axel.
"Mereka adalah tamu disini! Lepaskan Hana!" tandas marah makin marah.
Tatapan makin seram wajah Abaddon, tapi kedua jemari hitamnya makin kencang sekali meremas sakit dua pergelangan kaki Hana.
Wajah Hana makin tergerus sakit, bulir peluh terpaksa keluar menelusuk dari keluar dari pori-pori kecil wajahnya makin tegang dan ketakutan. Suasana makin mencekam, semuanya cemas dan wajah-wajah tegang perhatikan Hana.
"Elsa!" kesal Ben tidak mau didorong maju oleh kakaknya.
"Ben, cepat kamu kentut," Chris bisiki pelan kuping kanan Ben.
"Abadon, lepaskan dia! Saya janji, bila saya sudah temukan pelaku pembunuhan itu?" __ "Inara, apa maksud kamu?"
Makin bingung Axel memotong kata Inara seraya memohon pada Abaddon agar memberikan tenggang waktu dan melepaskan Hana segera.
Tapi hanya tatapan seram wajah Inara pada Axel ketakutan selangkah mundur ketakutan kebelakang. Sedangkan Sarip makin ketar-ketir ketakutan, andai saja kuku tajam milik Abaddon sampai bebas merobek dada Hana, tentu ia akan sangat bersalah sekali.
"Sarip tolongin gua," memelas sekali terdengar suara Hana.
"Hana?" jawab Sarip memelas.
Bingung dan harus bagaimana Sarip menolong Hana, tentu ia juga tidak akan berdaya dengan ketakutan yang dirasakannya saat ini.
"Ben, cepat tolongin dia," dorongan kuat dua tangan Elsa mendorong Ben maju.