"Errrrgggg ..."
Melayang terbang ditengah gelap malam, kedua kaki tidak menapak seraya terangkat mengambang tidak menyentuh tanah yang seakan mengutuknya kedua kaki Abaddon.
"Errrrgggg ..."
Hanya terdengar suara mengerang dari balik gelap malam berselimut kabut pekat.
"Hana ...!" berhenti Sarip melihat Hana terjatuh.
Axel dan Sarip cepat mendekati dan menarik dua tangan Hana sedikit menahan sakit pantatnya.
Ketiganya berlari ditengah gelap malam hutan pinus. Suara mengeram kecil tapi terdengar panjang, sungguh membuat ketiganya makin mencekam dalam ketakutan.
Pohon pinus hanya berdiri tegak berselimut hangat rindang dedaunan menutupi setiap langkah sinar lajunya cahaya rembulam malam.
Jauh diatas sana indung rembulan malam sungguh terlihat menawan hati, sinarnya sungguh terang sekali menggerayangi jagat malam bersamaan taburan miliran kediapan mata bintang.
"Kita dimana ini?" ujar Hana makin dicekam ketakutan.
"Gua juga ngak tahu dimana ini?" jawaban Sarip terus berlari.
"Dari tadi kenapa kita muter-muter disini aja," ditimpali Axel.
"Xel?!" terpaksa Sarip ikut berhenti berlari juga.
Hawa dingin makin mengajak sekujur tubuh ketiganya menahan dingin. Tarikan napas panjangnya kadang pendek, saat ketiganya makin terasa sedikit sesak tarikan napasnya. Wajah bingung Axel perhatikan sekitar, gelap sungguh gelap jauh dari keramaian.
"Tadi harusnya kita ngak usah lari dari rumah Inara," kata Sarip mulai kesal.
"Lah, loe sendirikan tadi yang minta gua cepat keluar dari rumah Inara?!" sewot balik tanya Axel.
"Udeh, udeh kalian berdua jangan kepancing emosi dan ntar ujung-ujung bertengkar deh!" lerai Hana sambil mengatur napas.
"Iya juga si, kalau tadi kita ngak cepat lari dari rumah Inara. Kita bertiga sekarang mungkin udah mati," suara Sarip terdengar kecil.
"Tapi benaran deh, saat gua ada dirumah Inara. Kenapa perasaan gua aneh aja bawannya," kata Hana ikut menimpali.
"Tahu deh," dijawab Axel masih bingung masa bodoh.
"Sekarang yang terpenting gimana caranya kita harus cari jalan keluar dari hutan ini," sambung Axel kali ia bingung.
Ketiganya merasa kecil berada diantara hutan pinus yang gelap dan mencekam.
"Aneh juga, kenapa dari tadi kita cuman muter-muter disini aja. Terus rumah Inara juga ngak kita temuin lagi," tutur Sarip pandangannya tertujuh pada sesuatu didepannya.
"Sarip?" Hana mengikuti Sarip makin penasaran ada sesuatu dibalik semak belukar.
"Ngak mungkin yang gua lihat tadi itu Inara?" guman dalam hati tidak yakin Axel.
"Gua yakin, itu bukan Inara?" guman pelan Axel berbalik perhatikan dua temannya.
Langkah Sarip mendekati semak belukar bergerak-gerak kecil.