Makin mentereng warna kuning volkswagen tersengat sinar matahari pagi, roda-rodanya berjalan mengajak kembali cepat pulang agar sampai kerumah. Tidak terlalu banyak lagi bulir-bulir dingin sisa pembiasan kabut malam menyelimuti sekujur body mobil sudah kering dan terbang sebagian terbawa angin.
Tidak lagi menyusuri jalan terjal menanjak, kini begitu mulus terasa nyaman setiap roda-roda mobil volkswagen melindas aspal hitam berjalan lurus.
Banyak rumah-rumah penduduk berjejeran sepanjang tepian kiri-kanan jalan, tandanya ada kehidupan yang tidak akan membuat ketiganya selalu berteriak dalam cekaman ketakutan lagi.
Wajah-wajah lusuh masih tersisa ketakutan dan rasa gelisah masih bersemayam dalam setiap benak, tentu saja bayangan dua matanya akan selalu terbayang kenangan abadi menakutkan itu akan terkenang sepanjang hari.
Hari itu, tanggal merah. Tentu bagi setiap siswa/i merasa bersuka cita, walau hanya barang sehari saja, untuk melepaskan penat serta mengendorkan urat-urat otak agar tidak selalu tegang dan esok kembali lagi akan menerima setiap lantunan bibir kasih sayang penuh ketulusan para pendidik.
"Gua yakin, ada yang aneh dengan Inara dan ketiga adiknya," ujar Sapri.
Sekali ia menatap kaca spion tengah perhatikan wajah lusuh Axel masih terbayang kisah tadi malam. Untung saja Sapri masih belum merasakan capek dan lelah sejak malam, dua tangannya masih kemudikan setir mobil.
"Benar kata loe, Rip. Inara dan ketiga adiknya kayak keluarga setan gitu deh," ditimpali Hana.
Hana sekali menengok kebelakang, Axel masih terduduk diam wajahnya hanya melempar melihat keluar jalan. Sudah tidak banyak lagi rumah-rumah terlihat, semakin sedikit jejeran rumah sepanjang jalan mengantarkan Axel pulang sepanjang jalan.
***
Rumah bergaya kolonial belanda masih tersisa basah bekas kabut malam, bulir-bulir dingin menetes berjatuhan pada permukaan kaca jendela. Dedaunan hijau juga masih menyisahkan basah, lihat pucuk-pucuk daun mulai bermain dengan dedaunan lainnya pada setiap ranting dahan pohon.
"Zzzzzz" suara gerombolan lalat.
Bangkai burung hantu masih tergeletak dibawah pohon berteman dengan stik golf merk kevler.
"Xel, gua balik dulu," kata Sarip tidak turun dari mobil.
"Makasih," singkat jawaban Axel berdiri disamping mobil.
"Loe ngak apa-apa Xel?" tanya Hana terduduk disisi jok kiri majukan setengah badannya kedepan.
"Gua baik-baik aja," sahut Axel tersenyum kecil.
Mobil volkswagen kuning kembali berjalan lagi meninggalkan sendirian Axel.