"Aku yakin Kakak suka dengan Kak Axel?" tanya Ben yakin.
Ben tertelungkup diatas lemari, kedua tangannya menopang dagu agar wajahnya tetap tersenyum yakin pada kakaknya.
Sedangkan Elsa terduduk disamping Inara sekali menoleh senyuman padanya, keduanya terduduk diatas ranjang besi bertirai kelambu putih. Posisi ranjang besi merapat pada sudut dinding, bersampingan dengan meja rias berkaca oval kusam.
"Apa Kak Inara ragu menerima cinta Kak Axel, karena?" setengah yakin pertanyaan Chris pada Inara.
Chris terduduk bersila dilantai berhadapan dengan Inara dan Elsa.
"Karena Kakak sudah jatuh cinta benaran dengan Kak Axel!" tandas Elsa beranjak bangun rada kecewa wajahnya.
Kursi meja rias kini sudah diduduki Elsa, wajah pucatnya terlihat depan cermin oval kusam.
"Benar kata kalian, jika Kakak sudah jatuh cinta sama Kak Axel sejak lama. Tapi setelah kejadian itu, ada rasa ragu untuk menerima cinta Kak Axel," tutur Inara beranjak bangun.
"Aku jelas betul melihat Kak Axel malam itu, Kak!" tandas yakin Elsa menoleh pada kakaknya.
Kini Inara berdiri dibelakang Elsa, kedua wajah pucat seram terlihat dalam cermin oval kusam.
"Kita berempat sudah sejak lama ditinggal Ayah dan Ibu, mereka pergi meninggalkan kita begitu cepat untuk selama-lamanya. Dan rumah inilah, yang jadi saksi bisu malam tragedi itu terjadi," sambung Inara menatap senyum pada Ben dan Chris.
"Malam itu rintik hujan turun dari langit deras sekali. Seakan langit tahu akan apa, yang terjadi. Dengan langit pada malam seakan sudah bersedih memberikan tandanya,"
Ketiga adiknya sudah terbaring diatas ranjang, wajahnya menatap sendu dan kupingnya siap mendengar anak sulung itu bercerita, seraya ia sedang berdongeng untuk ketiga adiknya sebelum tidur.
Inara sedikit tersenyum, ia sudah terduduk diatas kursi sudah ditariknya depan ranjang besi. Terasa hening sunyi ketiga adiknya menunggu cerita, yang sebentar lagi akan diceritakan kakaknya pada mereka bertiga.
***
Malam kejadian sebenarnya ...
Rintik hujan masih deras turun dari langit gelap, genangan airnya sudah membanjiri pelataran rumah, disambut dengan suka cita setiap relung dedaunan pepohonan. Cahaya samar lampu sejak tadi mulai dibayangi kabut malam, tidak tahu rintik hujan kapan akan segera berhenti.
"Uhu-uhu-u-uh-uuh,"
Pelan sekali terdengar suara burung hantu bertenger pada dahan ranting pohon basah. Bulu-bulunya sudah basah kuyup, tapi suara menyeramkan terdengar makin mengundang buluk kuduk berdiri berteriak ketakutan.
Kaca-kaca daun jendela masih basah dengan bulir-bulir rintik hujan, terlihat terang cahaya dari dalam setiap kamar. Artinya pemilik rumah bergaya kolonial belanda itu masih terjaga dari rasa kantuk.
Basah sudah bermadikan rintik air hujan sejak tadi, mungkin motor vespa keluaran terbaru itu sudah menggigil kedinginan dibiarkan hanya terparkir sendirian didepan pelataran rumah.
"Bi! Teh ini terlalu manis! Sudah berapa kali aku kasih tahu Bibi, jika Axel tidak suka manis!"