"Lagian kenapa juga si Kakak setelah Ayah dan Ibu ngak ada, Kakak selalu marah-marah sama Bi Nimas?" kata Ben seraya serius bertanya pada kakaknya.
Inara beranjak bangun dari duduk, lalu ia juga naik keatas ranjang besi. Matahari masih tinggi, jauh dari kata gelap langit diatas sana.
Axel masih lelap dalam tidurnya dikamar sebelah, andai ia masih teringat masa itu, tentu akan membuat Axel akan menyesali perbuatannya. Kali ini saja brain fog yang menyelimuti otaknya bisa menjadi alasan, bila ia lupa malam kejadian itu.
"Kasih sayang Ibu dan Ayah, sungguh Kakak masih rindukan sampai detik ini. Betapa cepat keduanya pergi meninggalkan kita berempat. Rasa tidak terima, tidak percaya, rasa kehilangan itulah yang membuat sampai detik ini. Kakak masih tidak terima dengan kepergiaan Ayah dan Ibu. Sampai-sampai Kakak selalu marah pada Bi Nimas, karena Kakak cemburu pada Axel. Kenapa Bi Nimas tidak memberikan kasih sayang itu pada kita berempat juga, malahan Bi Nimas selalu sayang pada Axel, anaknya sendiri. Kamar tidur ini, adalah kamar tidur mereka berdua, tapi malam kejadian itu Kakak masih teringat," tutur panjang Inara.
Tirai kelambu ranjang tertutup sendiri, terasa hening sunyi dalam kamar. Tirai jendela yang tadi terbuka perlahan tertutup sendiri, cahaya lampu diatas atap plapon seketika padam.
"Malam itu rintik hujan masih membasahi bum, disertai tangisan teriakan akan kehilangan seorang anaknya dengan kepergian Ibunya," terdengar dari dalam ranjang besi tertutup tirai kelambu.
***
Malam sesungguhnya kejadian itu ...
"Bu?!" terkejut Axel.
Nimas terkulai lemas sekujur tubuhnya menggigil kedinginan, napasnya makin sesak dan wajahnya kian terlihat pucat.
Axel memeluknya agar memberikan kehangatan, tapi nyawa Nimas sudah tidak tertolong terlepas dari raganya, saking dingin udara masih turun rintik hujan. Membuat asma kumat, karena dingin, membuat paru-paru menciut tidak bisa memompa napas dengan normal.
Seorang Ibu yang begitu sangat sayang sekali pada anaknya, walau sakit dan menahan marahnya dari setiap kemarahan anak pemilik rumah, yang baru saja mengusirnya pergi.
Hanya gara-gara kepikunan anaknya, yang sungguh manja sekali padanya dan begitu dibela sekali pada anak pemilik rumah itu karena ia juga padanya. Tapi hanya gara-gara secangkir teh, sudah bikin Inara tidak kuasanya menahan amarah mengusir Nimas dan Axel dari rumah.
"Ibu ..." teriakan Axel memecah gelap malam masih turun rintik hujan.
Dua matanya tajam menatap rumah bergaya kolonial belanda semakin basah dengan rintik hujan.
Ia beranjak bangun dengan sekuat tenaganya membopong jasad ibunya yang sudah tiada. Basah sudah sekujur relungnya, dingin penuh amarah kian merasuk menelusuk masuk kedalam deguban jantungnya, memicu hatinya untuk membalas kematian ibunya.
"Brug! Brug! Brug!"
"Uhu-uhu-u-uh-uuh,"