GHOST FAMILY

Herman Siem
Chapter #16

Mimpi Romantis Berujung Mencekam

Wajah pucat seram berlengan hitam berkuku panjang bermain-main diatas wajah tampan masih lelap tidurnya. Tidurnya Axel sampai mengajak ia bermimpi, sepertinya sudah mengajak terbang kelangit biru, berdua dengan seorang gadis pujaan hatinya.

Padahal diluar sana langit sudah menandakan dengan datangnya gelap malam, jelas terlihat dari jendela tirai tembus pandangnya sudah tertutup rapat. Bangkai burung hantu tidak lagi bersanding tidur dengan Axel, apalagi stik glof juga sudah pada tempatnya.

Sunyi sepi bercampur dinginnya angin malam terasa basah menyentuh relung hati. Guratan wajah makin sendu sedih hanya berani menatap wajah tampan lelaki yang sering pelupa.

Ingin rasanya jemari hitam berkuku panjang merobek wajah tampan Axel, tapi selalu saja tidak bisa tertahan cinta. Ujung kuku tajam runcing beranikan untuk menyentuh kening lelaki tampan itu, tapi tidak lantas berani juga ujung tajam kuku itu menekan dalam-dalam kening atau hanya sedikit saja menyakiti sampai berdarah.

"Cinta itu semakin membelenguku dalam lingkaran kemarahan, yang menjadikan aku dilemma?" guman Inara menatap sendu wajah lelaki yang dicintainya.

Lalu Inara terbaring disamping tidurnya Axel, sedikit tidak tidak terganggu. Kini tidak lagi jemari hitam berkuku panjang mememarkan kemarahannya, kini jemari hitam bebas memeluk memberikan kehangatan tubuh Axel.

Begitu erat sekali pelukan lengan kiri Inara menyamping ia terbaring, wajahnya tidak sedikitpun ingin beranjak pergi menatap wajah lelaki yang sungguh membuatnya jadi dilemma dimabok cinta. Dilemma karena cinta, sampai tidak kuasa berani Inara untuk membunuh Axel.

***

Mimpi Romantis ...

Tidak canggung, tidak merasa risih pelukan hangat Inara memeluk belakang punggung Axel. Keduanya sejak tadi selalu menebar senyuman pada angin malam, ketika motor vespa warna grey mengajaknya tidak tahu kemana.

Sorot kecil bulat cahaya lampu motor vespa membelah jalan berkabut, sepanjang jalan keduanya selalu menebar senyuman seraya memuja keindahan lukisan malam, sungguh agung sang pelukis malam itu.

Keduanya masih kenakan seragam putih abu-abu, keduanya juga memakai helm warna putih yang sama untuk menutupi kepala dan sebagian wajahnya.

Motor semakin mengajaknya naik ketas perbukitan moko, terhampar view rural dengan gemerlap kecil indah pijaran lampunya. Semilir dingin angin malam sungguh terkalahkan sudah dengan pelukan Inara mengusir rasa dingin yang menghempas setiap laju kecepatan motor dari depan untuk mengusir dingin dari tubuhnya Axel.

Kini stang motor vespa hanya dipegang erat jemari kanannya, sedangkan jemari kirinya Axel sudah melabukan jemarinya pada sepasang jemari menyatu Inara makin tersenyum yakin.

Motor vespa warna grey terus berjalan menyusuri jalan menanjak semakin keatas perbukitan, semakin disambut dengan rindang dedaunan pohon pinus memeluk erat setiap ranting dan dahannya agar bebas dari dingin malam.

Motor vespa sudah berhenti diujung paling tertinggi perbukitan moko. Keduanya lalu turun dari motor vespa dibiarkan saja menunggu sendirian berteman dengan gelap malam sepi.

View rural semakin terlihat indah dari dimana keduanya berdiri, sinar rembulan malam sangat sempurna indah terlahir dari indungnya mengajak setiap mata-mata kecil mengedikan mata terangnya.

"Xel?" __ "Inara?"

Dua bibir kecil saling terucap pasti, seraya hatinya ingin meluapkan tanda-tanda cinta.

Lihat selengkapnya