GHOST FAMILY

Herman Siem
Chapter #17

Rahasia Kematian Nimas

Pintu terdorong kedalam, keadaan didalam gelap mencekam hanya sekali-kali samar lampu menyalah tapi padam lagi.

Hanya gelap dilihat pandangan mata Axel, makin terpejam dua mata kaki makin ketakutan ragu untuk melangkah. Samar terlihat ranjang besi tertutup tirai kelambu warna putih, jelas tidak terlihat cermin kaca oval meja rias.

"Helloo?" pelan sekali terdengar.

Dari balik pintu, makin terlihat jelas jemari-jemari hitam berkuku panjang ingin mencakar, terhenti langkah Axel berdiri. Jemari hitam berkuku panjang makin mendekati, bulu kuduknya makin tegang merasakan bergidik ketakutan.

Wajah seram Inara, Elsa, Chris dan Ben kini jelas sudah berdiri dibelakang Axel.

Guratan tegang dan ketakutan, dua kakinya gemetar dan sepasang mata kakinya kian terpejam ketakutan. Jemari hitam berkuku panjang itu makin mendekati, makin mengulik rasa penasaran mengajak menengok kebelakang wajahnya ingin tahu apa yang sudah membuat buluk kuduknya bergidik ketakutan.

Dari jendela samping kamar terlihat jelas bayangan hitam melayang, makin ketar-ketir ketakutan Axel hanya sendirian dalam kamar.

Malam itu ia sedang tidak lupa, pasti ia lupa dengan anjuran Dokter Ghina untuk teratur minum obatnya, agar penyakit brain fog segera lenyap tidak menyelimut otak kecilnya lagi.

"Errrrgggg ..." terdengar panjang suara mengeram dari balik jendela samping rumah.

Mundur selangkah kebelakang, padahal dua matanya kakinya jelas melihat jemari hitam berkuku panjang keluarga setan itu sudah berdiri dibelakang Axel.

"Abaddon?" guman ketakutan Axel.

Semua saling menatap ketakutan keempat wajah-wajah pucat itu mendengar gumanan kata Axel.

"Brugg! Brugg!"

Keluarga setan makin ketar-ketir, kini rasa ketakutan berbalik pada keempatnya. Padahal mereka itu setan, setan yang takut dengan setan.

Tidak lagi jemari hitam berkuku panjang ingin menggerayangi Axel. Tapi Axel makin yakin, jika ada sesuatu dibelakangnya, pelan sekali wajahnya ingin menengok kebelakang.

"Brugg! Brugg!"

Sontak wajahnya menengok kebelakang, tapi hanya sepi dibelakangnya. Mungkin keluarga setan itu makin ketakutan dengan suara dari luar jendela samping rumah.

"Xel! Axel!" tapi suara itu, bukan suara Abaddon.

Kali ini langkah kaki Axel mantap berani mendekati jendela.

Lihat selengkapnya