Mobil volkswagen kuning sudah terparkir dipelataran parkiran rumah sakit khusus pasien yang mengalami gejala sakit saraf.
Tapi siapa yang sudah terduduk didalam mobil volkswagen itu, jika dilihat dari belakang mobil. Jelas sudah terduduk keluarga setan menatap seram pada pintu loby sudah berjalan masuk kedalam Axel, Hana dan Sarip akan temui Dokter Ghina.
"Brain fog bukanlah sebuah penyakit, tetapi gejala dari kondisi atau penyakit tertentu yang bisa mempengaruhi kemampuan kamu untuk berpikir dan mengingat melambat saja Axel. Tapi setelah saya teliti, tes dan periksa kamu, daya ingat kamu makin ada kemajuan. Ya, walau prsentasenya masih terlalu jauh kabut kecil itu masih menyelimuti otak kecil kamu. Tapi saya yakin, dengan sedikit adanya kemajuan yang kamu alami sekarang. Lambat laun brain fog yang kamu derita akan segera berangsur pulih," tutur yakin Dokter Ghina.
"Saya harap juga begitu Dok," ditimpali Sarip.
Axel dan Hana terduduk berhadapan dengan Dokter Ghina, tapi tidak pada Sarip sejak tadi nyaman sekali ia terbaring dibangsal pasien.
Dokter Ghina hanya tersenyum kecil perhatikan tingkah Sarip nyaman sekali ia terbaring diatas bangsal pasien berselimut kain putih. Tapi konyolnya Sarip kenapa tirai hijau pembatas bangsal malahan ditutupnya sampai rapat sekali, hanya terdengar suara lelaki bertubuh tambun saja.
"Artinya ingatan saya sudah kembali normal, Dok?" tanya Axel berharap cemas jawaban Dokter Ghina.
"Jika saya perhatikan dengan cerita kamu tadi, ada kemajuan dengan daya ingatmu Axel. Itulah brain fog dimana ingatan kamu yang sering lupa sesaat membuat kamu lupa akan segala hal. Namun setelah itu daya ingatanmu akan kembali normal lagi," sambung Dokter Ghina sedikit tersenyum.
Tadinya nyaman terasa Sarip terbaring diatas bangsal pasien, tapi kenapa sekarang wajahnya tegang seperti ketakutan. Sedangkan Dokter Ghina masih menerangkan pada Axel serta Hana hanya melempar senyuman pada Sarip wajahnya makin tegang ketakutan dibalik selimut putih.
Dokter Ghina, Axel dan Hana masih tidak menyadari apa yang sedang terjadi dengan Sarip. Makin ketakutan Sarip melihat jemari-jemari hitam berkuku panjang merayap keluar dari balik tirai hijau pembatas bangsal, sontak selimut ditariknya keatas menutupi wajahnya.
Makin tegang dan ketakutan Sarip, lehernya tercekek jemari hitam berkuku panjang, bagian perutnya yang buncit serta kedua kakinya makin terancam jemari hitam berkuku panjang.
Jelas kini wajah Inara muncul disamping kiri tidurnya Sarip barengan wajah berpipi temben itu menegoknya. Mau berteriak saja sulit, hanya ketakutan dan tegang sendirian dalam selimut putih.
Hana sekali menengok perhatikan tirai warna hijau hanya terdiam hening tidak bergerak, tapi seperti mendengar suara orang sedang tercekek dari balik tirai hijau.
"Sarip?" penasaran Hana beranjak bangun.
"Akh! Hehk!"
Tidak bisa berteriak dan menghindar dari jemari-jemari hitam berkuku panjang, kini wajah keempat keluarga setan makin jelas dilihat dua mata Sarip.
Selimut terlihat bergerak-gerak tidak berarah, seperti deburan hantaman gelombang samudra. Tapi dalam dasar lautan itu sudah tenggelam seseorang tercekam dalam ketakutan, sebentar lagi akan kehabisan napasnya.
"Akh! Hehk!"
Ingin merontah Sarip juga percuma, jemari hitam masuk kedalam kerongongkannya meeasa tersedak jijik, dua matanya terbelalak lebar ketika jemari hitam berkuku tajam itu memaksa mencungkilnya. Dua lobang hidungnya yang gede, juga tidak luput dari kelitikan jijik jemari hitam meringsek masuk kedalam lobang hidung yang gede itu.
"Akh! Hehk!"
"Sarip!"