"Ben?"
Langkah Ben terhenti saat dipanggil kakak tertuanya, mereka masih berada diruangan praktek Dokter Ghina masih pingsan terkapar dilantai samping bangsal pasien.
Chris terduduk dikursi Dokter Ghina berlagak jadi Dokter berhadapan dengan pasiennya, yang adalah Elsa sempat perhatikan wajah pucat Dokter Ghina masih tergeletak pingsan dilantai.
"Kamu kenapa Ben?" tanya anak sulung itu pada adik bungsunya.
Inara sudah membungkukkan setengah badannya, padahal jemari hangat berapa kali membelai rambut halus adik bungsunya. Wajah Ben tergurat kesal, apa karena ia sudah terlalu lelah dan capek berada dalam dunia fana ini.
"Aku capek Kak. Aku sudah tidak mau lagi mengganggu manusia," tandas Ben beranjak jalan keluar begitu saja meninggalkan ketiga kakaknya masih dalam ruangan praktek Dokter Ghina.
Hanya hening sunyi, terasa dingin setiap bisikan semilir angin merayap merasuk pada ketiga wajah-wajah pucat hanya terdiam menatap pintu ruangan praktek Dokter Ghina terbuka lebar.
***
Mobil volkswagen kuning sudah berjalan susuri perbukitan moko. Pandangan ketiga pasang mata mulai tersamar gelap diluar, mobil makin jauh berjalan mengajak ketiganya.
Kedipan ratusan gemerlap cahaya lampu mulai mempercantik view rural beratap langit gelap malam. Sepanjang jalan wajah-wajah terdiam berselimut tegang terpaku hanya menatap keluar jalan.
Kali Hana duduk dijok barisan belakang, sedangkan Sarip duduk disamping Axel kemudikan setir mobil.
"Gua semakin yakin Xel. Cerita loe dan saat kejadian tadi yang gua alami diruangan praktek Dokter Ghina. Inara dan ketiga adiknya, mereka itu memang keluarga setan. Mereka udah pada mati karena loe bunuh. Apa benaran mereka mau cari pelaku pembunuh itu?" yakin sekali apa kata ucapan bibir tebal Sarip.
"Iya Rip. Gua ngerasa bersalah aja uda ngebunuh mereka semua," ditimpali Axel.
"Tapi saat itu keadaan gua sangat marah bangat sama mereka, karena Ibu gua meninggal," sambung Axel sekali menoleh kebelakang melihat Hana terduduk diam saja.
"Dan saat itu gua juga lupa, kenapa gua lakuin itu pada Inara dan ketiga adiknya," tambah penuturan Axel wajahnya mulai gelisah dan cemas.
"Tapikan loe saat itu lagi kalap, karena Ibu loe meninggal dunia dan pikun loe kambuh lagi," kali ini terdengar suara ocehan Hana sedikit maju duduknya kedepan.
"Iya Han," singkat jawaban Axel.
"Terus sekarang kita balik lagi kerumah itu? Rumah yang cuman reruntuhan bangunan doang?!" ragu jawaban Sarip sontak wajahnya tegang.
"Loe mau minta maaf sama Inara dan ketiga adiknya?" Hana tahu maksudnya Axel.
Axel menganggut sekali, artinya benar pertanyaan Hana padanya.
"Kita bertiga cari mati! Pasti Abaddon akan menangkap kita!" ketus disahutin Sarip makin tegang wajahnya.