GHOST FAMILY

Herman Siem
Chapter #20

Brain Fog Bukan Jadi Alasan

"Tinn ... Tinn ... Tinn ..."

"Brugg! Brakk! Brugg!

Viper naik naik turun, dari lobang kecilnya mengeluarkan air basahi semakin bersih menyapu kaca luar mobil dan bising terdengar suara klakson memecah malam.

"Xel? Sarip?" bingung Hana tengok kearah mobil.

Sorot cahaya lampu mobil menyalah terang menerangi jalan, kadang padam dan terang cahaya sorot lampunya.

Samar dari kejauhan terlihat warna kuning body mobil volkswagen masih berselimut gelap malam.

"Mobil, tadi udah loe matiin mesinnya Rip?" tanya Axel bingung.

"Udah Xel," jawab ragu tergurat tegang wajah Sarip.

"Aneh?" sahut Hana tambah bingung.

"Kak?"

Baru saja Axel, Hana dan Sarip akan berjalan mendekati kejadian aneh pada mobil, yang terparkir sejak tadi tidak jauh dari tepian perbukitan tebing dimana mereka berdiri saat ini. Menatap aneh dan bingung mulai merasa tegang dan ketakutan, apa yang dipikirkan Ben mulai dipahami Aexl, Sarip dan Hana hanya berdiri berhadapan anak kecil berwajah pucat.

"Lihat itu?" pelan sekali kata Ben.

Telunjuk kanannya menunjuk kearah mobil volkswagen, ketakutan dan tegang mulai menggurati wajah ketiganya.

Seperti tahu apa yang sedang terjadi dengan mobil milik lelaki bertubuh tambun itu, pelan sekali langkah Axel, Sarip dan Hana berbalik.

Sedangkan Ben hanya berdiri dibelakang Axel, wajahnya sekali melihat kearah mobil volkswagen kuning itu, lalu sembunyi lagi dibelakang pinggang belakang Axel.

"Itu mereka ada disini," ucap Ben makin ketakutan.

Ben masih berdiri dibelakang Axel, Hana dan Sarip.

Sungguh jelas dan nyata terlihat kali ini wajah seram pucat, serta jemari-jemari hitam berkuku panjang siap merobek mengoyak tubuh wajah kedinginan.

Inara, Elsa dan Chris berdiri diatas kabin mobil, ketiga wajah mereka menebar kemarahan ancaman. Terangkat keatas ketiganya, melayang berjalan seraya terdorong hembusan semilir amukan angin kemarahan kian memuncak.

"Kak! Hentikan!" teriak Ben seraya melerai ketiga kakaknya.

Inara, Elsa dan Chris terhenti mengambang tidak menyentuh daratan basah kedua kaki mereka.

Sungguh hanya guratan wajah-wajah pucat penuh kemarahan, berjemari hitam berkuku panjang siap merobek mengoyak wajah dan tubuh lelaki yang sudah membunuh mereka.

Lihat selengkapnya