Hana, Sarip dan Axel pergi berlari susuri hutan pinus, walau sekali-kali tatapan Axel masih menoleh pada Inara menatap sendu larut dalam amarah dendamnya.
"Kenapa tadi Kakak tidak bunuh saja Kak Axel?" ketus sekali pertanyaan Ben pada kakak sulungnya.
Sudah tidak lagi terlihat Hana, Sarip dan Axel berlari, hanya ada gelap malam masih menyelimuti pohon-pohon pinus.
Indung rembulan malam seraya ikut bersenandung sedih, tidak lagi menyinari semesta dengan sinar cahaya rembulannya.
Ben sudah tidak lagi terlihat, anak bungsu itu semakin tidak sependapat dengan kakak sulungnya masih saja hatinya bersikeras ingin membunuh Axel.
Elsa dan Chris tahu, bila kakaknya itu masih ada rasa tidak sampai hati untuk membunuh Axel. Padahal perasaan Inara sudah terbalut cinta antara setan dan manusia, yang sebenarnya sulit menyatu.
"Kak?!"
"Ben ..."
Elsa sontak mengejar kakaknya berjalan cepat sekali, sedangkan teriakan kencang Chris memanggil Ben yang tidak tahu sudah berada dimana.
Chris dan Elsa cepat berlari mengejar kakaknya. Kedua adiknya, yakin jika kali ini kemarahannya kakak akan sampai pada puncak untuk benar-benar membunuh Axel.
***
Tidak lagi wajah pucat, tapi kali ini wajahnya sungguh seram mengitam. Dua pergelangan kakinya menghitam, jemarinya juga menghitam berkuku panjang.
"Axel ...!" teriakan panjang terdengar.
Terhenti langkah lari Hana, Sarip dan Axel.
"Kak, jangan!" memohon Elsa pada kakaknya.
Tatapan wajah Inara tajam dan seram sekali sampai mendorong adiknya terjatuh.