Rumah bergaya kolonial belanda kini terlihat semakin tidak terawat, terasa hampa sepi tidak berpenghuni lagi.
Rumput liar semakin bebas tumbuh pada setiap sudut pelataran halaman rumah, dedaunan semakin lebat rindang terikat pada setiap ranting dan dahan pohon.
Kaca-kaca jendela makin terlihat kusam, sejak lama sudah tertutup dengan tirai jendela tembus pandanganya.
Terlihat gelap didalam, pasti tidak akan ada lagi cahaya penerangan didalamnya, pasti tidak lagi ada geligat mahluk hidup.
Masih sama jarum panjang jam dinding bercokol pada angka enam dan jarum pendeknya berhenti diantara angka enam dan tujuh, posisi jam dingding masih sama pada tempatnya.
Ranjang besi hanya terongok diam membisu tertutup tirai kelambu putih, terasa rindu untuk dibaringi kembali.
Sedangkan meja rias tidak adalagi yang menduduki kursinya, apalagi cermin ovalnya makin terlihat kusam, kadang sekali terlihat bayangan wajah-wajah seram.
Semua dibiarkan begitu saja, semua ditinggalkan pemiliknya, yang kini sudah menjadi penghuni alam abadi disana.
Terasa sepi hening sunyi dan hampa dalam kamar, yang dimana Axel selalu terbaring tidur diatas dipan itu, kini hanya tersisa stik glof merk kevler dalam sarung kulit warna coklat.
Sinar matahari perlahan mulai berganti gelap malam, terlihat dari balik jendela dalam kamar. Gelap terlihat dari luar, apalagi suasana setiap sudut ruangan kamar terasa menambah mencekam.
"Uhu-uhu-u-uh-uhu ..."
Terdengar panjang dari luar suara mencekam pemanggil kematian.
Tapi sungguh kini pemilik rumah itu sudah tiada, awalnya ia mendengar suara burung hantu itu, dengan kesalnya ia mengusir burung hantu itu dengan stik golf merk kevler.