GHOST LAWYER - THE SERIES

GAZALI
Chapter #1

Vol I / BAB 1 - LANGKAH TERAKHIR

Wanita itu sudah menghitung sampai sepuluh sebanyak tiga kali. Anehnya, ia masih belum berani melompat.

Hujan turun seperti bisikan. Bukan deras, tapi cukup untuk membuat rambutnya lepek dan jaket tipisnya menempel di punggung. Di bawah, Sungai Deli mengalir hitam. Lampunya kota memantul di permukaan air, pecah-pecah, seperti kaca yang sengaja diinjak.

Nadia mencengkeram besi pagar yang dingin. Karatnya mengelupas di telapak tangan. Kuku jarinya putih karena terlalu kencang menggenggam. Ia memejamkan mata.

Satu.

Dua.

Tiga.

Angin dari hulu sungai menyentuh pipinya. Dingin. Mengingatkan dia bahwa kulitnya masih bisa merasakan apa-apa. Bahwa jantungnya masih berdetak, meski dia sudah minta berhenti sejak tiga minggu lalu.

Empat.

Lima.

Enam.

Kakinya sudah di luar pagar. Ujung sepatu ketsnya yang sobek mengetuk udara kosong. Kalau dia condongkan badan sedikit saja, gravitasi akan mengambil alih. Tidak perlu keputusan. Hanya perlu melepaskan.

Tujuh.

Delapan.

Sembilan.

Napassnya tercekat. Bukan karena takut tinggi. Dia takut setelah ini. Takut kalau ternyata jatuh pun tidak menyelesaikan apa-apa. Takut kalau rasa kosong ini ikut dengannya ke bawah.

Sepuluh.

Nadia membuka mata. Kakinya masih menggantung. Air matanya jatuh duluan, menetes ke sungai. Dia tidak bersuara. Tidak menjerit. Hanya dadanya yang naik turun, menahan sesuatu yang beratnya melebihi tubuhnya sendiri.

Dia mundur setengah langkah, kembali ke pijakan. Besi pagar berderit.

"Pengecut," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya habis ditelan hujan.

Dia menghapus air mata pakai lengan jaket. Asin, bercampur air hujan. Di seberang jembatan, motor lewat cepat. Lampunya menyapu wajah Nadia sepersekian detik, lalu gelap lagi. Tidak ada yang berhenti. Tidak ada yang lihat.

Bagus. Memang seharusnya begitu.

Nadia menunduk. Menghitung lagi dari awal.

 

Raja Siahaan mematikan lampu ruangannya pukul 22:47. Kantornya kecil. Satu meja, dua kursi, lemari arsip yang pintunya tidak bisa rapat. Di dinding ada papan nama akrilik: Raja Siahaan, S.H. Huruf A-nya miring karena bautnya lepas. Dia belum sempat benerin. Sudah tiga bulan.

Hujan membuat atap seng berisik. Dia mengunci pintu, menarik kerah jas yang sudah kehilangan bentuk. Dasinya longgar. Dasi murah yang dia beli di Pasar Ikan tiga tahun lalu, ketika pertama kali sumpah advokat.

Ponselnya bergetar di saku. Nama yang muncul: Pak Darwin – CV. Maju Terus.

Raja menekan terima sebelum pintu ruko tetangga ditutup. "Halo, Pak Darwin. Malam."

"Pengacara macam apa kau, Raja?" Suara di seberang langsung tinggi. "Tiga kali sidang. Tiga kali kalah. Uang perusahaan habis untuk biaya panjar, biaya saksi. Hasilnya nol!"

Raja berhenti di bawah atap, biar suaranya tidak saingan sama hujan. "Saya minta maaf, Pak. Putusan hakim sudah inkrah."

"Maaf? Kau pikir maaf bisa balikin ruko saya yang disita bank?"

Raja memejamkan mata. Dia bisa saja bilang: bukti Bapak lemah. Bisa saja bilang: saksi Bapak berubah keterangan. Bisa saja lempar salah ke sistem, ke jaksa, ke hakim. Pengacara lain sering begitu. Lebih gampang.

Dia menghembuskan napas. "Bukan. Maaf tidak bisa balikin ruko Bapak. Saya cuma mau bilang... saya gagal membuktikan kebenaran versi kita di persidangan."

Lihat selengkapnya