GHOST LAWYER - THE SERIES

GAZALI
Chapter #2

Vol I / BAB 2 - Diantara Dua Dunia

Gelap.

Tidak ada suara.

Tidak ada rasa sakit.

Hal pertama yang disadari Raja bukanlah cahaya. Melainkan sunyi yang bahkan mampu menelan suara napasnya sendiri.

Ia membuka mata.

Tidak ada langit.

Tidak ada tanah.

Tidak ada bayangan.

Hanya putih.

Putih yang tidak silau. Putih yang tidak dingin. Putih yang tidak punya ujung. Seperti berada di dalam kertas kosong yang belum ditulisi apa-apa.

Raja berkedip. Sekali. Dua kali. Kelopak matanya terasa normal. Tapi dia tidak yakin itu benar-benar matanya.

Dia bangkit perlahan. Atau setidaknya, dia merasa bangkit. Tidak ada tumpuan. Tidak ada tekanan di telapak tangan. Tubuhnya bergerak karena dia memerintahkannya bergerak, bukan karena ada lantai yang menolak jatuh.

"Hoii," katanya.

Suaranya keluar. Dia dengar. Tapi begitu lepas dari bibir, kata itu hilang. Bukan gema. Bukan memantul. Lenyap. Seperti dia bicara ke dalam bantal yang ukurannya sebesar dunia.

Raja menelan ludah. Tenggorokannya kering. Atau basah. Dia tidak bisa bedakan.

Dia menunduk. Melihat dirinya sendiri. Jasnya masih di sana. Kemeja putih yang lepek, dasi miring, celana bahan yang ujungnya koyak karena tadi nyangkut di pagar. Sepatu pantofel satu, satunya entah di mana. Tapi semua itu kelihatan... datar. Seperti gambar yang digunting lalu ditempel di udara.

Ingatan datang terlambat, seperti tamu yang salah alamat.

Jembatan.

Hujan.

Perempuan.

Nadia.

Tangan.

Lalu jatuh.

Dadanya sesak. Bukan karena tidak bisa napas. Karena panik tidak punya tempat untuk lari.

"Nadia?" Dia memanggil. Namanya juga hilang ditelan putih.

Dia melangkah. Kaki mengayun, tapi tidak ada suara. Tidak ada rasa menapak. Dia bisa saja diam di tempat dan membayangkan dirinya jalan. Hasilnya sama.

Raja berhenti. Memegang kepalanya. "Tenang. Tenang, Raja. Ini mimpi. Kebentur. Pingsan. Sebentar lagi bangun di RSU Pirngadi, suster bilang: Pak, tagihan BPJS-nya nunggak."

Dia ketawa. Suaranya mati sebelum selesai.

Lucu. Dia tidak merasa lucu.

 

Sosok itu muncul tanpa datang. Tiba-tiba ada di kejauhan. Seperti noda tinta yang diteteskan di kertas putih.

Raja menyipit. Siluetnya kecil. Rambut panjang. Jaket.

Jantungnya, kalau dia masih punya, berdetak sekali. Keras.

"Nadia?"

Sosok itu mendekat. Tidak berjalan. Tidak melayang. Hanya... semakin jelas. Seperti fokus kamera yang diputar.

Benar Nadia. Masih pakai jaket yang sobek di siku. Celana jeans basah. Rambutnya nempel di pipi. Ujung rambutnya meneteskan air.

Tetes.

Tetes.

Tetes.

Air itu jatuh ke bawah. Lalu hilang. Tidak ada bunyi. Tidak ada genangan. Putih tetap putih.

Lihat selengkapnya