Gelap.
Lalu...
BIP...
Suara monitor jantung.
Rasa sakit menghantam dada Raja lebih dulu sebelum ia sempat membuka mata. Seperti ada tangan tak terlihat yang meninju rusuknya dari dalam, memaksa sesuatu yang berhenti untuk berdetak lagi.
Udara masuk. Dingin. Perih. Membakar tenggorokan.
Ia batuk keras. Dahaknya bercampur darah.
Orang-orang berteriak.
"Detaknya kembali!"
"Cepat! Siapkan oksigen!"
"Defib turunkan, turunkan!"
Dunia kembali bergerak. Lampu neon di langit-langit terlalu terang. Bau alkohol dan karet menyengat hidung. Ada tangan menekan dadanya. Ada selang yang didorong ke lubang hidung.
Raja mencengkeram sprei. Kainnya nyata. Kasar. Basah oleh keringatnya sendiri.
Dokter muda dengan kacamata berkabut menatap monitor, lalu menatap Raja. Wajahnya antara lega dan tidak percaya.
"Pak Raja? Pak Raja, bisa dengar saya?"
Raja mengangguk. Atau dia pikir dia mengangguk. Kepalanya berat seperti diisi timah.
"Anda sempat tidak ada nadi selama empat menit dua puluh detik," kata dokter itu. Suaranya bergetar. "Kami sudah mau... kami kira..."
Perawat di sebelahnya menutup mulut. Ada yang diam-diam mengusap mata.
Raja mencoba bicara. Yang keluar hanya suara serak. "Air."
Botol disodorkan. Dia minum. Airnya tawar, tapi terasa seperti hal paling hidup yang pernah masuk ke mulutnya.
Pikirannya berputar. Rumah sakit. IGD. Defibrillator. Itu alat yang tadi nempel di dadanya. Berarti dia mati. Sesaat.
Jembatan.
Nadia.
Jatuh.
Dia menoleh cepat. Lehernya protes. Di ranjang sebelah, gorden setengah tertutup. Tidak ada siapa-siapa. Di luar, hujan masih turun. Dia bisa dengar dari jendela.
"Tolong," bisiknya ke dokter. "Perempuan... yang sama saya... ada?"
Dokter mengernyit. "Perempuan? Korban yang dibawa bersama Bapak?"
Raja mengangguk kuat-kuat. Kepalanya berdenyut.
Dokter menatap perawat senior. Perawat itu menggeleng pelan.
"Yang perempuan tidak tertolong, Pak," kata dokter hati-hati. "Datang sudah dalam keadaan henti napas. Kami coba resusitasi tiga puluh menit. Tidak ada respons."
Dada Raja yang baru dipaksa hidup, rasanya mau berhenti lagi.
Dia menutup mata. Putih. Bukan putih kosong seperti tadi. Putih lampu rumah sakit.
"Ini keajaiban, Pak Raja," kata perawat yang lebih tua. Suaranya bergetar. "Saya dua puluh tahun di IGD. Belum pernah lihat pasien balik setelah empat menit lebih. Tuhan masih sayang sama Bapak."
Raja tidak menjawab. Tuhan. Keajaiban. Kata-kata itu terasa jauh. Yang dia ingat cuma dinginnya pergelangan tangan Nadia. Dan kalimatnya sendiri.
Karena hidupmu masih berharga.
Gagal. Dia gagal lagi.
Ruangan mulai sepi. Dokter pergi mencatat laporan. Dua perawat keluar masuk pasang infus baru. Monitor jantung sekarang bunyi stabil. Bip... Bip... Bip...
Raja menyandarkan kepala ke bantal. Infus di punggung tangan kirinya dingin. Dia menatap langit-langit. Ada retakan kecil membentuk huruf S.
Lalu dia merasa dilihat.
Bukan oleh perawat. Bukan oleh dokter. Dari sudut ruangan.
Dia menoleh pelan.
Di sana. Dekat lemari alat.
Nadia.
Masih pakai jaket yang sobek di siku. Celana jeans basah. Rambutnya menetes. Tetes. Airnya jatuh ke lantai keramik. Tidak ada genangan. Hilang begitu menyentuh lantai.
Dia menatap Raja. Wajahnya kosong. Tidak sedih. Tidak marah. Seperti orang yang bangun tidur dan belum ingat dia ada di mana.
Raja napasnya tercekat. "Nadia..."
Dokter yang lagi nulis di ujung ranjang mendongak. "Ya, Pak?"
Raja mengangkat tangan kanan. Menunjuk. "Di situ. Dia..."
Dokter mengikuti arah telunjuk Raja. Ke sudut ruangan. Ke lemari alat. Kosong. Hanya ada tabung oksigen cadangan.
Dokter mengernyit. Dia melirik perawat. Perawat menggeleng kecil.
"Pak Raja, istirahat dulu ya," kata dokter pelan. Nada yang biasa dipakai ke pasien yang mulai ngelantur. "Bapak mungkin masih syok. Halusinasi pasca trauma itu wajar."