Raja selalu percaya bahwa setiap kejadian memiliki penjelasan yang masuk akal. Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia berharap keyakinan itu masih benar.
Ia terbangun dengan napas tersengal. Keringat dingin membasahi kaus yang ia pakai tidur. Kamar kosnya sunyi. Tidak ada suara monitor jantung. Tidak ada bau alkohol. Hanya kipas angin tua yang berputar pelan di langit-langit, bunyinya krek-krek seperti tikus menggerogoti kayu.
Raja menatap retakan di plafon. Menghitung. Satu, dua, tiga detik. Nyata. Padat.
Mimpi.
Kata itu muncul seperti pelampung. Ia mencengkeramnya. Jembatan, jatuh, putih kosong, Nadia, pria tua dengan bekas jerat di leher. Semua pasti mimpi. Efek otak yang sempat mati empat menit. Halusinasi. Dokter sudah bilang. Wajar.
Ia menghela napas. Lega. Lega sampai dadanya sakit.
Ia bangkit. Kaki menyentuh lantai. Dingin keramik terasa masuk akal. Ia jalan ke kamar mandi. Kumur. Cuci muka. Airnya nyata. Dingin.
"Mimpi," ulangnya ke cermin. Wajah di cermin pucat, ada memar biru di dada bekas defibrillator. Tapi itu bisa dijelaskan. Dia memang jatuh dari jembatan. Mungkin kepalanya terbentur. Mungkin dia pingsan, lalu sadar di rumah sakit. Sisanya... otak mengarang.
Ia keluar kamar.
Nadia sedang duduk di sofa.
Masih mengenakan jaket yang sobek di siku. Masih basah. Ujung rambutnya menetes ke bantal sofa. Tidak membasahi. Tetesan itu hilang sebelum menyentuh kain.
Ia menoleh ke Raja. Tersenyum kecil. Canggung.
"Selamat pagi."
Raja membeku.
Harapannya runtuh. Bukan pelan-pelan. Seketika. Seperti kaca yang dijatuhkan dari lantai lima.
Dia mundur selangkah. Punggungnya membentur pintu kamar.
"Kau..." suaranya keluar serak.
Nadia mengangkat bahu. "Aku juga berharap aku hilang kalau kau bangun. Ternyata tidak."
Raja menutup mata. Membuka lagi.
Nadia masih di sana.
Meja kerjanya penuh kertas. Berkas kasus lama, kalender, pulpen yang tintanya habis. Raja menyingkirkan semua. Mengambil buku catatan baru. Sampulnya masih bersih.
Ia menulis di halaman pertama. Tanggal. 4 Juli 2026. Lalu digarisbawahi dua kali. Kebiasaan pengacara. Fakta harus dicatat.
Di bawahnya, ia tulis: Kemungkinan Penjelasan.
1.Halusinasi.
2.Trauma.
3.Efek obat.
4.Cedera otak.
Tangannya gemetar waktu menulis nomor empat.
Ia membuka laptop. Koneksi kos lemot. Dia menunggu loading sambil mengetuk-ngetuk meja.
Nadia berdiri di dekat jendela. Menatap ke luar. Tidak mengganggu. Tidak melayang. Dia berdiri seperti manusia. Kalau saja jaketnya tidak basah di ruangan kering, Raja bisa pura-pura dia tetangga yang mampir.
"Googling apa?" tanya Nadia.
Raja tidak menjawab. Ketik: halusinasi pasca henti jantung. Enter.
Muncul jurnal. Post-Cardiac Arrest Syndrome. Anoxic Brain Injury. Visual and Auditory Hallucinations After Clinical Death.
Ia klik satu-satu. Baca. Pelan. Seperti lagi sidang. Mencari pasal yang bisa membebaskan kliennya. Kliennya kali ini dirinya sendiri.
Pasien melaporkan melihat sosok yang sudah meninggal. Bicara dengan mereka. Gejala dapat bertahan hari hingga minggu. Penyebab: otak kekurangan oksigen, trauma psikologis, stres akut.
Raja menggarisbawahi kalimat itu di layar dengan kursor.
Lihat. Ada penjelasan.
Ia menoleh ke Nadia. Nadia masih menatap keluar. Punggungnya kena cahaya matahari pagi. Cahaya itu tembus. Di tembok belakangnya, ada bayangan jendela. Tidak ada bayangan Nadia.
"Aku tahu apa yang terjadi," kata Raja. Suaranya dia usahakan stabil.
Nadia menoleh. Alisnya naik. "Apa?"
"Kau tidak nyata."
Kalimat itu dia ucapkan seperti membacakan putusan. Tegas. Final.
Nadia menatapnya lama. Lalu senyum. Pahit. Bukan marah. Seperti orang yang dikasih tahu dia kalah, dan dia sudah duga.
"Kalau aku tidak nyata," katanya pelan, "kenapa kau bicara denganku?"
Raja tidak jawab. Dia menunduk. Menulis di buku catatan, di bawah nomor 1: Proyeksi rasa bersalah. Otak menciptakan figur untuk menyelesaikan konflik batin.