GHOST LAWYER - THE SERIES

GAZALI
Chapter #5

Vol I / BAB 5 - Mereka Tidak Akan Pergi

Pria tua itu masih berdiri di depan pintu apartemen Raja ketika matahari terbit.

Semalaman.

Ia tidak bergerak.

Ia hanya menunggu.

Raja tahu karena dia juga tidak tidur. Matanya perih. Kopi di meja sudah dingin sejak jam tiga pagi. Dari lubang intip, bayangan itu tetap di sana. Kemeja lusuh, celana bahan kotor, dan lingkaran lebam di leher yang kelihatan seperti syal hitam.

Ini bukan mimpi.

Ini bukan kebetulan.

Raja mengusap wajah. Tangannya gemetar. Bukan karena takut. Karena marah. Marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa pura-pura buta.

 

Jam enam lebih sepuluh, Raja membuka pintu. Engselnya berderit.

Pria tua itu masih di posisi yang sama. Membelakangi lift. Menghadap pintu Raja. Seperti satpam yang jaga satu-satunya aset di dunia.

Begitu mendengar suara pintu, pria itu berdiri. Pelan. Lututnya seperti berderak. Dia tidak bicara. Tidak mendekat. Hanya menatap.

Raja menghela napas. Panjang. "Bapak masih di sini."

Bukan pertanyaan.

Pria tua mengangguk. Sedikit.

"Kenapa?" suara Raja naik satu oktaf. Dia sendiri kaget. Sudah lama tidak bentak orang. Di pengadilan pun dia bicara pelan. "Apa Bapak tidak punya tempat lain?"

Pria tua tersenyum. Senyum orang yang sudah lama tidak punya alasan untuk senyum, jadi kelihatan kaku.

"Aku memang tidak punya," katanya.

Kalimat sederhana.

Tetapi menyakitkan.

Raja menutup pintu lagi. Lebih kencang dari niatnya. Di dalam, Nadia duduk di kursi makan. Sejak semalam dia tidak bicara. Hanya menatap lantai, seperti menghitung retakan keramik.

"Kau lihat dia kan?" tanya Raja tanpa menoleh.

Nadia mengangguk. "Dari tadi."

"Kenapa dia tidak pergi?"

Nadia tidak jawab. Atau tidak tahu jawaban.

Raja mengambil jas dari gantungan. Memakai dasi yang sama dengan kemarin. Dia harus ke kantor. Ada klien jam sembilan. Sewa ruko belum lunas. Listrik bisa diputus minggu depan. Hidup tidak peduli dia habis mati suri atau lihat hantu.

Dia membuka pintu lagi. Pria tua masih di sana.

"Ikut," kata Raja ketus. "Tapi jangan ngomong. Jangan apa-apa. Anggap saja Bapak udara."

Pria tua mengangguk lagi. Patuh. Itu yang bikin Raja makin kesal.

 

Kantor Raja tetap sama. Papan nama miring. AC bunyi. Lemari arsip tidak bisa rapat.

Klien hari ini datang tepat waktu. Ibu Sumarni, 53 tahun. Kerudung cokelat, tas kulit imitasi, map plastik berisi sertifikat tanah yang ujungnya lecek.

"Pak Raja, saya sudah keliling tiga pengacara," katanya langsung duduk. "Kata mereka susah. Lawan saya kepala desa. Tapi saya dengar Bapak jujur. Bapak mau dengar dulu kan?"

Raja mengangguk. Dia buka buku catatan. Pena di tangan. Fokus. Ini yang dia bisa. Ini yang dia ngerti. Pasal. Bukti. Saksi.

"Sertifikat atas nama almarhum suami Ibu, tahun 1987..." dia mulai membaca.

Lalu dia merasa ada yang berdiri di belakang Bu Sumarni.

Pria tua itu.

Dia tidak masuk lewat pintu. Tiba-tiba saja ada. Berdiri diam. Menatap Raja. Tidak menatap Bu Sumarni. Tidak menatap sertifikat. Hanya Raja.

Raja kehilangan kalimat. "Eh... tahun 1987, terus..."

Bu Sumarni menunggu. "Terus, Pak?"

"Terus... ahli warisnya..." Raja melirik ke atas bahu Bu Sumarni. Pria tua itu tidak berkedip. Lebam di lehernya kelihatan lebih gelap di bawah lampu neon. "Ahli warisnya Ibu dan dua anak, betul?"

"Betul, Pak. Tapi anak saya yang pertama sudah meninggal. Tinggal si bungsu."

Raja menulis. Tangannya salah. Anak pertama meninggal. Dia coret. Tulis lagi.

Pria tua itu maju selangkah. Masih diam. Tapi sekarang jaraknya cuma satu meter dari Raja.

Keringat dingin turun di pelipis Raja.

"Pak Raja," Bu Sumarni mulai khawatir. "Bapak tidak apa-apa? Mukanya pucat."

Raja memaksa senyum. "AC-nya... dingin."

Lihat selengkapnya